Gerimis Kamis

 Sebuah apresiasi kecil untuk seseorang yang tengah dimampukan Allah untuk memegang amanah besar.. :)


                                                                               ***     
      Aku merapal setiap katamu yang terucap, membiarkan nafas yang terhela berbaur dengan desah angin, aku hanya merasakan dingin kala terguyur air yang tumpah disikut anak-anak yang berlarian di seputar mesjid salman. Atau merasa kotor atas debu yang tertinggal mahasiswa setelah rapat digelar. Namun engkau datang segera, keberadaanmu menyelimuti pagi, lalu berkawan dengan hangatnya mentari. Entah apa yang kau tunggu, matamu lekat pada sebuah buku, tanganmu sibuk menekan handphone yang mungkin baru, adakah sesosok mahluk yang kau rindu? Aku tak persis tahu..

“apa yang kamu lihat dari wanita berkerudung merah itu?” tetiba teman disampingku bertanya,
“menurutmu?” aku balik bertanya,
“mungkin, karena ia memilihmu?” terkanya, aku menghela, ntahlah, keberadaanmu masih asing untukku, tapi engkau kini terlanjur memilih aku.
“bisa jadi, tapi ini kali pertama, ntah kali kedua atau selanjutnya, bahkan belum tentu juga ia datang di waktu mendatang” ku jawab asal.
“lalu? Istimewakah? Bukannya sudah banyak wanita sebayanya yang menghampirimu, itu sudah biasa bukan?” temanku meracau. Ada sebuah rasa penasaran yang menjalar..
“bisa jadi” lagi-lagi ku jawab asal, sekali lagi, kini aku tak persis tahu, kau orang baru untukku..

        Bagaimana mungkin kulupakan saat itu, engkau menemaniku dengan sebuah pena dan buku, tersenyum lalu menuliskan, aku tak bisa membaca, namun kutahu apa yang dirasa, beberapa waktu kemudian, jari-jarimu mulai keriting, melepas pena, lalu meraih buku untuk kau lahap dengan kedua mata bola yang bulat, waktu terus berdetak, berlomba dengan degup yang semakin kencang, kau lipat buku itu, lalu menutup mata, rehat sejenak. Sebuah getar pesan singkat mengoyak damai, aku ikut bergetar karena hanphone mu kau taruh persis di atasku.

“Yes, akhirnya! ini jalan keluar yang melegakan” engkau berucap lirih, dan nampak gembira setelah membaca pesan itu, lalu melepas kacamata, mengusap air mata yang tertahan, lalu tersenyum..aku tertegun, apa kira yang membuatmu mampak bahagia. Namun saat itu aku ingat sesuatu yang ku lupa sebelumnya, bahwa ini hari istimewa dalam deretan minggu, yaitu hari “kamis”,

“kau tahu sesuatu?” teman disampingku kembali mencari tahu..
“Ya, ini hari kamis, kau tahu? Kenapa wanita berkerudung merah itu ada disini?” aku membisikkan pelan,
“Karena ini hari kamis, waktunya kita memperhatikan gulat sastra, itu alasan ia ada disini, mungkin” aku antusias dalam menerka keberadaanmu disini, meski sebetulnya aku tak begitu yakin. Namun semua terjawab jelas kala kedatangan seseorang, engkau tersnyum padanya, lalu bercakap tentang sastra.

$$$

    Puluhan tahun, aku dan ratusan temanku terdiam disini, hidupku keras, karena harus melalui proses panjang untuk terpilih menjadi bagian dari sebuah bangunan, kami di bariskan dengan pola yang indah, aku ingin sederhana saja, tak perlu di tempatkan di sebuah bangunan mewah, tapi cukup bagiku ketika keberadaanku menjadi salah satu sarana untuk manusia beribadah, termasuk untuk mencari ilmu seperti kamu. Ini tepat tahun ke empat aku menjadi kawan baikmu, engkau mungkin tak sadar, tapi aku menyetiaimu dalam engkau berproses sebagai “muslim sastrawan” yang kau cita-citakan. Lingakaran kamisan ini menjadi bagian terpenting sebagai wujud kepatuhanku pada Tuhan, pun kamu, yang tengah menjadi pohon rindang dan meneduhkan dengan kesempurnaan sastra yang mengagumkan..
               
  Di suatu kamis 2013..

       Dalam rintikan hujan yang mengantarkan senja, aku menunggu kedatanganmu, Engkau berbeda, ku tahu Engkau harus menempuh jalanan panjang untuk sampai duduk sambil menghela nafas panjang diatasku, sedang kawanmu tak kunjung datang, padahal keberadaan mereka lebih dekat, tapi inilah yang menjadi ‘nilai lebih’ atas dirimu. Kembali Engkau menunggu dalam gemuruh hati yang tak tahu akan dibawa kemana lingkaran ini selanjutnya.

“ Ku dengar teman baikmu kini menjadi nahkoda dalam lingkaran ini. benarkah?” temanku kembali mengusik, belakangan memang ku dengar ada yang berubah dalam kehidupanmu, bukan berubah, lebih tepatnya semakin membulatkan apa yang menjadi tekadmu.
“Ku pikir begitu, lihatlah wajahnya, disana tampak kegalauan luar biasa, namun bisa kupastikan, itu rasa galau yang akan menghentakkan dunia, melumer pekat, lalu menyalakan sinar”
“Amboi nian, sahabatmu itu, sudahkah dia mengabarimu perihal ini?” temanku rupanya memanasiku, agar aku memberanikan diri menyapamu, tapi bagaimana caranya? Kucukupkan kesaksianku ini menjadi bisu yang mendamaikanmu. Aku tersenyum, karena rupanya sahabat karibmu datang kalau itu, sahabat yang akan mendampingimu mengadu galau yang tengah kau rasakan. Ada mata yang berbinar, lalu kembali menerawang gerimis, lalu tersenyum, Engkau menyentuhku, dan rebahan bersama kawanmu, bersama memandang gerimis di hari kamis.

Sekali lagi ku katakan, aku akan setia membersamaimu..

Salam Untukmu yang ku tahu sedang didewasakan Tuhan..


Aku adalah..
“Sekotak keramik manis yang tengah kau duduki dalam lingkaran kamis”


Sonia S Sun*

Komentar