Selembar Tisu untuk Darah Naya


Sorong!! Pernahkah kalian mendengar nama itu, bukan, itu bukan bagian kata dari lagu potong bebek yang sering dinyanyikan anak-anak, tapi ini sebuah nama kabupaten dipapua yang sangat bersejarah bagi Naya. Karena disini Naya lahir, dari sini pula semua kejadian itu berasal, kejadian yang membuat Mace tak sadarkan diri beberapa hari. kejadian saat itu, membuatku semakin dekat dengan Rabb-ku dan itu karena seorang gadis manis  yang berasal dari keluarga Kristen ortodoks tapi sangat mencintai Allah yaitu N.A.Y.A
$$$
            “ Bapade tak main-main kan dengan ajakan ini?” mata Naya berbinar-binar, ajakan laki-laki dengan kulit hitam legam ini membuat harapannya kembali muncul, yaitu sebuah janji masa depan yang  gemilang.
“ Kapan Bapade bohong sama anak dari Pace ko ini, di Jakarta, ko bisa cari uang dan sekolah di gedung – gedung yang tingginya 5 kali lipat dari pohon beringin ini.” Ucap Bapaade dengan tangan yang sedang menepuk-nepuk pohon beringin disebelahnya.
“ Jadi gimana, ko mau ikut Bapade ke Kota yang canggih itu, bahkan keren julukannya, Kota Metropolitaaannnn” lidah Bapade terlihat aneh ketika menyebutkan kata-kata yang terakhir, tapi bagaimanapun kedengarannya sangat keren bagi orang-orang seperti Naya. Karna yang Naya tau adalah rutinitas-rutinitas yang ia kerjakan setiap hari yaitu mencari makanan di hutan, berburu babi, dan melakukan ritual-ritual keagamaan nasrani yang selalu dilakukan Mace dan Pace.

“ Yah, Naya mau ikut, tapi apa Pace dan Mace mengizinkan? “ Bapaade tersenyum mendengar pertanyaannya.

Ko tak usah khawatir, Bapaade akan membantu untuk meminta izin pada pace dan mace ko itu” Naya tersenyum bahagia, Yess, akhirnya aku akan melihat dunia yang lebih hebat..Bisik hatinya yang tak berhenti mengucap syukur pada Tuhan.
$$$
Kota Jakarta berbeda 180 derajat dengan Sorong, hanya suasana panasnya saja yang sama. Disini banyak kerlap kerlip lampu yang menghiasi kota, sungguh indah dipandang mata. Sedangkan di sorong, sore hari adalah pintu gerbang memasuki kegelapan dan kesenyapan. Naya senang, karena ia bisa mendapatkan doa restu dari pace dan mace untuk menuai kesuksesan di kota Jakarta.

Bapade mau bawa Naya kemana ?”  setelah perjalanan yang melehakan dengan menenteng 2 tas besar, bapade masih belum memberikan tanda-tanda bahwa perjalanan ini akan berakhir, dan betapa kagetnya Naya, ketika sampai diujung jalan, Bapade mulai aneh, ia meninggalkan Naya pada sebuah rumah mewah namun misterius, dan dengan mengucapkan beberapa kata Bapade langsung berlalu menghilang dari pandangan Naya.

“ Disini ko akan Bapade tinggal, datanglah kerumah besar itu dan mintalah pekerjaan untuk ko hidup disini”  Naya terdiam, beginikah caranya Bapade? Naya belum cukup berani untuk ditinggal sendiri, namun mau tidak mau Naya harus mengetuk rumah besar itu, tampak dari luar rumah itu seperti tak terawat dan menyeramkan. Kaki Naya mulai bergerak menuju pintu hitam itu, tangannya gemetar menekan tombol bel, 1 detik kemudian terdengar irama bel yang membuat hati semakin tegang.

“ Krak..” Pintu itu perlahan mulai terbuka, decitannya membuat bulu kuduknya berdiri. Dan sempurnalah pintu itu melebar, Naya tak berkedip dan berusaha menahan nafas, Tuhan kuatkan aku.

“ Kamu sudah datang, ayo masuk..” Ekspresi Pria bertubuh besar dan bertato itu datar, sangat datar, bahkan ia tak menanyakan Nama dan maksud kedatangan Naya, seolah-olah ia telah lama mengenal Naya. Nafas Naya mulai panas, dan ia berjalan tepat dibelakang Pria besar itu.

“ Maaf Pak, saya adalah…”
“ saya sudah tahu, Songar alias Bapade kau itu yang mengirimmu kesini kan, dan mulai hari ini kau akan melayani ku sepanjang waktu, peraturan disini adalah kamu tidak boleh protes dengan apa yang saya lakukan, dan kamu kerjakan apa yang saya perintahkan, cukup” Nanar, Naya tak kuasa mendengar pernyataan orang besar bertato itu, Bapade? Benarkah? Apa maksud semua ini? Ingin rasanya Naya lari menuju pintu itu, tapi sepertinya pintu hitam itu terkunci, dan untuk semetara waktu Naya memilih untuk pasrah, kalaupun sekarang kabur, nanti naya juga kebingungan harus tinggal dimana, ujung-ujungnya nanti jadi gembel. Sungguh Naya tak mau perjuangan ke Jakarta ini akhirnya menjadi seperti itu.

“ Sudah, kau masuk ke kamarmu” ia menuju sebuah kamar yang ditunjukan laki-laki besar bertato itu. Dengan sangat was-was Naya mencoba untuk membukanya dan ternyata kamarnya cukup lumayan, Sangat lumayan, namun sayang kamar ini begitu berantakan. Naya lelah dan menjatuhkan diri kekasur, walaupun hatinya belum tenang, tapi ia berusaha untuk selalu berfikir positif seperti yang diajarkan Pace dan Mace, ia percaya bahwa Tuhan akan melindunginya apalagi untuk Naya, seorang Nasrani ortodoks yang sangat taat.

“ Dug..dug..dug..” belum 24 jam Naya berada dirumah itu, pintu kamarnya diketuk sangat keras. Naya berusaha menenangkan diri dan membuka pintu kamarnya, dan…

“Aww..” 
tubuh naya didorong sampai terjatuh, ternyata yang datang adalah laki-laki besar bertato itu, namun parahnya ia sedang mabuk sekarang. Matanya merah menyeramkan bak harimau yang menemukan mangsa, ditangannya terdapat botol beraroma alkohol yang menyengat, kakinya melangkah semakin mendekat. Naya ketakutan, ia mundur perlahan, mengambil apa saja yang bisa dijadikan senjata untuk memukul orang besar ini. Satu dua langkah, “ Gedebuk..” lagi-lagi Naya terjatuh, jarak atara dirinya dengan orang besar ini tinggal 1 meter. Tangan kasarnya menampar wajah Naya yang hitam manis, saat itu darah segar mengalir di ujung mulut Naya, 5 detik kemudian kedua tangan jahat itu mencengkram bahu Naya, Matanya semakin buas..

“ Dengar kau, rasa kesalku kepada bapade mu itu akan kulampiaskan sekarang, jadi bersiaplah untuk menerima permainan ku sekarang ini, hahahahaha” Naya semakin getir, kedua kakinya seketika menjadi kaku, apa yang harus ia lakukan. Naya berusaha sekuat tenaga untuk melarikan diri, namun laki-laki besar bertato itu semakin kuat dalam menyiksa Naya, “ PLAK..” kali ini tamparan itu tepat mendarat di pipi sebelahnya lagi. Darah segar kembali mengalir. Naya mengusap darahnya yang sudah menetes sampai dada. Matanya berlinangkan air mata, harus pada siapa ia meminta tolong. 5 detik kemudian, Naya dikagetkan oleh gerakan cepat dari tangan orang jahanam itu, Dan puncaknya sebuah pisau menghujam perut  Naya,

“ Aaaaa…”, ia ambruk tapi masih berusaha untuk bertahan, tangannya bergetar mengambil sesuatu dibawah ranjang, ternyata itu sebuah AlQuran lusuh yang sudah lama dibuang oleh penghuni rumah ini, saat memegang Alquran itu, ada getaran dahsyat didalam hatinya, Naya menangis ketika membaca terjemahan Q.S 60:4. Seketika ia menangis pilu dengan menahan sakit. Keimanannya muncul pada detik-detik akhir hidupnya. Sesungguhnya Naya telah mengakui Allah sejak lama, namun hatinya selalu menolak. Kini rasa percaya itu mengalahkan segalanya, Naya ingin pulang, pulang dalam pelukan Allah yang menciptakannya.

“ Ya Rabb, ampuni Naya. Aku bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhanku dan Muhammad adalah Nabiku, dan kepadamulah aku akan kembali” Mata Naya tertutup untuk selamanya, walaupun sekujur tubuhnya dipenuhi darah namun  ia pulang dengan membawa keimanan. Aku mengangkatnya, dan mengusap darahnya dengan selembar Tisu, inilah selembar tisu untuk darah keimanan Naya. Subhanallah.

Keterangan : Pace = Bapa, Mace=Ibu, Ko=kamu, Bapade=Paman

Komentar

Postingan Populer