Sepotong Roti Untuk Surga
Bandung,
Februari 2010.
Pemandangan pagi dikota Bandung,
manusia mulai berlalu lalang disekitaran jalan,ada yang mengipas-ngipas kue
surabi, ada yang mendorong gerobak – gerobak besar berisi barang dagangan, para
tukang ojeg siaga memamerkan barisan giginya untuk melemparkan senyum kepada
setiap ibu yang kedua tangannya dipenuhi barang belanjaan. Disebelah kiri
seorang satpam bersiap-siap mengantar anak sekolahan menyebrang, melihat
kekanan seorang gadis kecil merengek-rengek minta dibelikan susu segar kepada
ibunya, semua manusia sibuk dengan urusannya masing-masing, masa bodoh dengan
orang-orang yang sibuk mencari pekerjaan, masa bodoh dengan anak-anak yang
telantar minta makan, yang penting adalah urusanku selesai hari ini. Titik.
Padahal tidak jauh, sekitar 500 meter dari keramaian itu, seorang kakak kecil
mungil berusia 11 tahun sedang berpikir keras memutar otaknya, kemana pagi ini
ia harus melangkah untuk mencari sesuap nasi, untuknya dan adiknya.
“Jika,
nanti sore kakak belum kembali, maka tunggulah dulu Dik, janganlah kau menyerah,
tahanlah sebentar rasa sakitmu itu, yakinlah, kakak akan kembali, mungkin hanya akan terlambat sedikit, ingat,
bertahanlah Dik, kakak pasti kembali ”
Kedua mata itu beradu saling bertatapan
penuh harap, sepasang mata yang tak tahu hidup harus bagaimana dan akan dibawa
kemana, pemikiran itu terlalu sulit untuk kapasitas otaknya yang hanya lulusan
kelas 2 SD. Yang mereka tahu hidup adalah untuk mencari sesuap nasi, dengan hanya memikirkan hal itu saja rasanya
kepala mereka sudah ingin meledak. Ya, diusianya yang masih sangat muda, mereka
tak pernah merasakan apa itu namaya sebuah keceriaan dan kebahagiaan, bahkan
mungkin mereka lupa bagaimana caranya untuk bermain dan tertawa.
$$$
Jam
12.20 Waktu Dago, Bandung
Terik, sangat terik, rasanya matahari
hanya tinggal satu jengkal diatas kepala. Kucuran keringat yang mengalir kedada
tak henti-hentinya membuat Ayom sedikit geli. Tentu ini akan membuat kondisi
tubuhnya semakin kucel dan bau. Tapi tak apalah bagi Ayom yang terpenting
adalah bagaimana caranya supaya ia dan adik kesayangannya bisa makan hari ini.
Kakinya yang pecah belah karna tak bersandal melangkah tak tentu arah tujuan,
butiran-butiran keringat dari dahinya mulai menjalar sampai dada, mata sayu nya mengedarkan pandangan ke
sekeliling jalan simpang dago, alhasil hanya manusia – manusia bermobil yang ia
lihat, parahnya lagi ia baru saja menyaksikan pemandangan yang begitu membuatnya
cemburu setengah mati. Diseberang jalan dekat trotoar ada sebuah keluarga yang
sedang asik menyantap mie ayam bersama-sama. Tangan sang ibu begitu cekatan
menyuapi seorang gadis yang sepertinya se usia dengan Ayom. Tak ketinggalan
sang ayah pun memberikan bumbu bumbu kemesraan dengan memberikan elusan hangat
yang mendarat di pipi anak itu. Anak itu pun tersenyum bahagia. Ayom tersenyum
getir, ada luka yang sangat dalam tertoreh di hatinya. Andaikan….
“ Aw..” khayalan kebahagiaan yang baru
saja akan dibayangkannya putus sudah oleh sebuah sergapan yang tak diharapkan.
Ada
pukulan kecil yang mendarat di bahu kanannya. Tentu ini mengembalikan kesadaran
Ayom bahwa sekarang ia sedang berada dihadapan seorang raksasa besar yang lebih
menakutkan dari sergapan genderuwo yang pernah diceritakan Mang Ijen, pamannya
yang baru meninggal karena gagal ginjal 2 bulan yang lalu.
“ Mana hasilmu hari ini, sudah 3 hari
kau tak bayar full” Bang Jack tiba
dari arah yang tak terduga. Bola matanya yang segede ball bekel hampir saja
loncat dari cangkangnya. Bau rambut yang tak pernah dicuci selama
bertahun-tahun pun langsung membuat Ayom sesak napas belum lagi cengkraman
tangannya bagitu menyakitkan bak cengkaraman harimau yang menemukan daging
karna kelaparan.
Kalau sudah begini, Ayom tak bisa apa-apa selain tahan nafas
dan mingkem, menutup mulutnya rapat-rapat dan kalaulah dipaksa untuk berbicara
hanya dua kata yang berani ia lontarkan yaitu ..
“ Ampun Bang..!” Pasrah! Jurus kunci
yang dilakukan semua anak-anak para kuli pasar dago. Karena jika berani melawan
maka mereka tidak boleh lagi menginjakan kaki disini. Dan parahnya adik Ayom
pun bisa menjadi sasaran kejahatannya, itu yang paling ditakutkan Ayom.
“ Oke, Maka utangmu menjadi 2 kali
lipat sekarang dan sore ini kau harus sudah melunasi semua” suara keras bang
jack membuat Ayom bergetar, giginya bergemulutuk menahan marah. Ingin rasanya
ia meledakan bom atom pada tubuh besarnya itu. Tapi syukurlah cengkraman sadis
bang Jack segera terlepas dan ia meninggalkan ayom dengan tatapan bengis
mengancam.
Ayom tertunduk lesu saat itu, lihatlah
anak itu kawan, lihatlah…kedua matanya mulai nanar karna dipenuhi buliran air
yang beberapa detik lagi akan menetes membanjiri kedua pipinya, sakit, ini
teramat sakit bagi ayom. Adiknya Ranum sedang menunggu di gubuk kardus buatan
Ayom dekat tempat Pembuangan Sampah Akhir, menunggu dalam keadaan lapar dan
kesakitan. Suaranya yang lembut selalu terngiang di telinga Ayom “ Kakak..Aku takut..sungguh Kak, Ranum
takut…” sudah 2 minggu kalimat itu selalu terlontar dari mulut kecil Ranum,
dan Ayom hingga kini belum tahu apa maksud dari rasa takut Ranum itu.
“Ayah,
Ibu..” jeritan hati Ayom tak terbendung lagi,
bahkan sebenarnya Ayom lebih merasakan sakit dari apa yang kita dengar dan
rasakan. Beberapa detik kemudian Ayom tersadar dari rasa perih nya ia harus
melanjutkan perjuangan untuk bekerja sebagai kuli panggul ibu-ibu yang sudah
berbelanja dipasar. Pantang bagi Ayom untuk meminta-minta, baginya harga
dirinya tetap harus dipertahannkan seberapa pun getir nya hidup ini. Entah datang dan diajarkan oleh siapa
prinsip mulia itu.
“ Nak,
Bisa tolong ambilkan belajaan ibu itu sampai ke mobil sana!” Seorang ibu-ibu
berparas cantik, menyerahkan beberapa kantong besar yang berisi berbagai macam
makanan kepada Ayom sambil tangannya menunjuk ke arah sebuah mobil berwarna ijo
tua,
“ Oh, dengan senang hati Bu,,” terang
saja Ayom gembira, karena memang ia ahlinya dibidang angkat mengangkat barang.
“ Ibu banyak sekali barang
belanjaannya,” Ayom mencoba ber-SKSD sambil menaikan satu persatu kantong besar
ke bagasi mobil tua, ibu cantik itu tersenyum ramah, sepertinya ia tidak merasa
keberatan dengan pertanyaan Ayom.
“ Ini untuk besok Nak, kebetulan anak saya besok berulang tahun, jadi ibu mau membuat
syukuran kecil-kecilan” lagi-lagi hati Ayom merasa teriris-iris dengan kalimat
singkat itu. Ibu! satu kata yang seringkali ayom ucap dan dengar tapi tetap
saja terasa hambar baginya, berbekal keyakinan kepada Mang Ijen, satu-satunya
sumber informasi yang ia percayai di dunia ini, Ibu Ayom meninggal ketika
melahirkan Ranum 9 tahun yang lalu, ibunya tak kuasa menahan sakit melahirkan
yang hanya dibantu oleh dukun beranak dengan peralatan yang seadanya, saat itu Ayom baru berusia 1,5 tahun, ia tak
ingat apa-apa dengan kejadian itu.
“ Ini untukmu Nak, terimakasih ya” Ibu cantik itu menjulurkan 2 lembar uang
seribuan. Tangan Ayom segera menyambutnya, ada rasa lega dalam hatinya,
setidaknya hari ini ia sudah bisa membeli nasi satu bungkus, tinggal mencari
uang tambahan untuk lauk pauknya. Satu dua ibu-ibu mulai memanggilnya, hari ini
sepertinya hari yang penuh kegetiran tapi juga membuat kantong saku Ayom penuh,
setelah dihitung-hitung dari tadi siang hingga sekarang jam setengah enam sore,
Ayom sudah mengantongi uang hampir 7 ribu, bagi Ayom ini jumlah uang yang
sangat banyak, karena ayom dan Adiknya bisa makan kenyang. Jarang-jarang Ayom
mendapatkan uang sebesar ini, biasanya Ayom bekerja seharian melawan terik
matahari dan hujan hanya bisa membawa uang 3 sampai 4 ribu, hanya cukup untuk
membeli nasi dan tahu saja. Dengan rasa bangga, Ayom berbegas untuk pulang, tak
sabar melihat wajah ranum yang pastinya akan bahagia juga.
$$$
Jalanan menuju rumah kardusnya tampak
sepi, suara jangkrik hitam mulai terdengar nyaring, Ayom bak ular yang sangat
cekatan melewati satu per satu gang sempit yang ia lewati setiap hari, bau amis
dan sampah menjadi pemandangan sehari-hari, hidungnya sudah terbiasa mencium
segala sesuatu yang menjijikan bagi kebanyakan orang. Ulat, lalat, kutu,
belatung, kucing, anjing, dan hewan liar lainnya sudah semakin bersahabat
dengan Ayom, inilah hidup yang harus dijalani olehnya, mau tidak mau harus mau,
suka ataupun tidak harus tetap suka. Tidak ada pilihan baginya selain untuk
tetap bersyukur dengan segala sesuatu yang ada pada dirinya. Ayom berjalan
santai menekuni jalanan lurus yang becek, tiba diperempatan, angin malam mulai
kencang, bulu kuduknya mulai berdiri, rasa-rasanya ada yang tidak beres dengan
situasi seperti ini, ternyata benar, tepat 2 meter didepannya munculah
seseorang yang benar-benar ia benci selama ini, siapa lagi kalau bukan bang
Jack, orang yang mengancamnya tadi siang, ingatan bang Jack memang sangat kuat,
ia tepat janji kalau berurusan dengan tindakan peras memeras orang lain.
“ Mana Janjimu tadi siang?” mata
bengisnya mulai beraksi, tangan kekarnya menjulur kedepan tengah bersiap
mengambil harta rampasan. Ayom benar-benar tak habis pikir, kebahagiannya tak
mau terenggut begitu saja. Ayom mulai berpikir, satu detik, dua detik, dan..
“ Ini bang Jack, lihatlah, uangku
sedikit lebih banyak dari biasanya, aku pikir bertemu denganmu adalah sesuatu
yang akan membawa malapetaka bagiku, tapi tidak, aku salah, aku yakin,
pertemuan kita tadi siang membawa keberuntungan bagiku, Tuhan mendengar doaku,
sehingga aku bisa mendapatkan uang sebanyak ini, tapi Bang, kau tahu adikku,
sudah beberapa hari ini ia sakit, aku ingin membelikannya obat, obat yang hanya
berupa kebahagiaan bisa memberikannya hadiah kecil. Tapi memang jika kau mau
mengambil ini semua, ambilah..” Tangan Ayom memindahkan uang recehan kucel pada
tangan Bang Jack, pasrah, berharap kepasrahannya membawa nasib yang lebih baik.
Tatapan bengis Bang Jack berubah menjadi dingin, diam beberapa saat, sepertinya
Bang Jack tengah mengingat-ngingat sesuatu.
“ Sudahlah, Lupakan…”
Bang Jack berlalu tanpa permisi, uang
recehannya kembali pada tangan Ayom, Ayom salah tingkah, tak percaya dengan
sikap Bang Jack yang ternyata masih punya hati juga. Bayangan Bang Jack semakin
menghilang dari tatapan Ayom, ini keajaiban!! Tubuh gontai Ayom kembali
meneruskan perjalanan.
$$$
Rembulan diujung cakrawala tampak indah
dengan keanggunannya memamerkan sebuah kesederhanaan. Kesederhaan yang apa
adanya, layaknya Ranum yang sedang sibuk melipat-lipat plastik bekas untuk
kembali dijual di tukang rongsokan langganannya, lihatlah wajah Ranum,
guratannya mengisyararatkan bahwa ia lelah dengan semua ini, wajah memelas
seorang gadis kecil yang ingin dibelai oleh orangtuanya, namun lihatlah
senyuman manis yang terpancar dari bibirnya, senyum keikhlasan kawan, sesekali
ia melihat kearah kakaknya yang tak kalah sibuk dengan beberapa tumpukan kardus
untuk ia setorkan esok pagi ke Mang Surto, tukang loak kardus dipasar Simpang
Dago,
“ Kakak..” Ranum memecah kesunyian,
“ Iya Dik..” Panggilan itu! Panggilan
itulah yang paling Ranum suka dari Ayom.
“ Aku, boleh minta sesuatu?”
takut-takut Ranum menyebutkan kata itu, Ayom tampak mengernyitkan sebelah
alisnya, mungkin tidak biasa dengan hal ini.
“ Allah tak pernah melarang hambaNya
untuk meminta Dik, sekalipun untuk anak jalanan seperti kita, apalagi kakak,
tak mungkin kakak melarang sesuatu yang kamu inginkan, selama itu baik untukmu”
Ayom tersenyum dewasa, sangat dewasa, ia memang tampak lebih dewasa dari
umurnya, hidupnya yang keras telah mengajarkannya untuk menjadi sosok yang
lebih kuat, sosok yang harus memberikan perlindungan sepenuhnya untuk Ranum.
“ sekarang udah baikan kan Dik, kamu
tidak takut lagi sepertinya, karna kamu sekarang sudah kembali sehat dan ceria,
baiklah, kakak akan lakukan apa saja untuk mewujudkan semua keinginanmu”
mendengar kata-kata itu, Ranum semakin bersemangat untuk mengutarakan
keinginannya.
“ Aku..” terdiam..
“
Apaaa?” Ayom mencoba untuk menggodanya..
“ Ini tak penting Kak, tapi aku ingin
merasakannya”
“ Jadi apa?” ayom semakin penasaran
“ Aku mau dibelikan Roti yang enak kak,
seringakali aku melihat anak-anak orang kaya itu makan roti beraneka rasa,
mereka tampak bahagia, Rotinya empuk, besar-besar, diatasnya banyak
hiasan-hiasan lucu, merah, hijau, kuning, indah kak, kelihatannya lezat,
sekaliii saja..” mata bulat Ranum berbinar-binar, ekspresinya memelas penuh
harap, malu tapi sangat mau, Ranum tak sabar mendengar jawaban dari Ayom.
Sebaliknya, ekspresi Ayom sedikit kaku, ia tahu dalam hal ini Ranum
sungguh-sungguh menginginkannya, hal yang sangat sepele untuk orang yang punya
uang banyak, tapi tidak untuk mereka. Hanya untuk membeli sepotong roti enak
saja rasanya mereka harus mengorbankan jatah makan mereka selama berhari-hari. Ayom
tersenyum sambil mengangguk. Ranum menarik nafas lega, rasanya ia bahagia
sekali. Tentu saja Ayom tidak sampai hati jika menolak permintaan Ranum, Ayom
berpikir keras, bagaimana caranya ia bisa membeli Roti enak itu.
$$$
“ Roti apa namanya Mang?? Je-je…kko”
Ayom mengeja satu kata yang ia baru dengar dari Mang Surto, sambil mengirimkan
dus-dus bekas yang ia kumpulkan semalam, diam-diam Ayom menanyakan informasi
seputaran roti yang katanya sangat enak.
“ Ia Jeko, Mang Surto sering melihat
orang-orang kaya membeli roti itu Yom, tempatnya di dekat perapatan jalan,
disana ada gedung besar bertuliskan J setrip
C O, aduh aneh deh tulisannya. Coba cari aja kesana Yom” Mang Surto tampak
antusias memberikan informasi itu. Begitu juga dengan Ayom, mendengar namanya
yang aneh, Ayom sudah menduga bahwa harga roti itu pasti sangat mahal,
untungnya ia masih punya tabungan sedikit, tapi pasti belum cukup. Oleh karena
itu,hari ini Ayom akan bekerja mati-matian untuk bisa mendapatkan uang banyak,
Roti enak bernama jekko, selalu terbayang di benak Ayom. Seharian penuh Ayom
bekerja, bahkan hingga pukul 9 malam, badannya seakan remuk, matanya mulai
buyar, tapi tidak untuk semangatnya. Uang sudah terkumpul, semoga tokonya belum
tutup, setengah berlari Ayom menghampiri toko itu, ternyata benar harganya
sangat mahal uang tabungan dan hasil kerjanya hari ini tengah raib hanya dengan
sepotong roti enak ini, tapi tidak apa-apa, Ayom ikhlas, ini semua untuk Ranum.
Maret
2010, Jam 22.00, waktu Rumah Kardus
“ Dik, bangun,,Kakak datang, lihatlah
ini” Ayom tak sabar ingin melihat kebahagiaan Ranum memakan Roti yang kini
berada dalam genggamannya.
“ Ranum..” sekali lagi Ayom
menggerak-gerakan tubuh Ranum yang terkujur lemas. Perlahan mata Ranum terbuka,
sayu, tidak biasanya air muka Ranum seperti ini. Hati Ayom mulai merasakan
kekhawatiran yang ntah tidak begitu jelas
“ Ini rotinya Ranum, kamu pasti
bahagia, sini, Kakak bantu untuk duduk” Ranum tersenyum, ia tidak berbicara
sepatah katapun, Ayom membantunya untuk duduk, dan sedikit demi sedikit
menyuapi Ranum dengan sepotong roti idamannya.
“ Bagaimana, enak? Kakak sayang kamu
Ranum” Tuhan, ada apa ini, mengapa tiba-tiba Ayom ingin menangis, ia melihat
adiknya tersenyum tulus, mulutnya mulai terbuka ingin mengatakan sesuatu. Tapi
rasanya ia sedang menahan sakit.
“ Kakak, Ranum juga sayang Kakak,
terimakasih atas semuanya, Roti ini, enak sekali, semoga Kebaikan kakak dibalas
dengan SURGA” Ranum menutup mata untuk selamanya, petir menggelegar membelah
bumi. Tuhan!! ada anak calon surga yang sedang menangis sendirian malam itu, Ayom
menangisi kepergian adiknya. Allahuakbar, ternyata Roti ini untuk Surga, doa
tulus dari Ranum kecil.

Komentar
Posting Komentar