Cinta yang Menghebatkan
Suasana
pagi yang tanggung dari kaki gunung manglayang,
Rupa-rupanya Tuhan punya cara yang
unik untuk membangunkan hamba-Nya yang anggun (Anak Gunung), tidak dengan
sentuhan ataupun bisikan lembut ditelinga, tapi cukup dengan puluhan ayam yang
saling berdecit sahut menyahut layaknya terjadi suatu kerecokan heboh antar
tetangga. Oke, kali ini aku menyerah padamu ayam, terimakasih telah
mengingatkanku bahwa aku masih punya jatah untuk menjalani hari ini, minimal
pagi ini, pagi yang basah atas jejak turunnya hujan tadi malam, jendela
berkabut, sekali dua kali aku tarik nafas panjang menikmati segarnya udara
pagi, dingin merasuk membuat hasrat ingin kembali menarik selimut. Tapi melihat
embun yang bergelayut dipucuk daun, mengingatkanku pada sesosok berwajah embun
yang telah mencuri cintaku selama 22 tahun, bahkan untuk selamanya, dialah
Ibuku,,
Bagiku pagi adalah moment terpenting
setiap harinya, penting karena ada sosok ibu disini, segelas teh manis hangat
selalu siap sedia tanpa di minta. Dengan hal itu saja, aku mempunyai asupan
semangat yang begitu besar untuk menjalani hari. Inilah cinta dengan energi yang menghebatkan,
belakangan ini aku banyak belajar tentang hal ini, Allah membawaku pada perspektif
cinta yang berbeda, tidak langsung, tapi melalui proses panjang. Sehingga aku
harus menyelami perasaanku yang mungkin sudah tak karuan belakangan ini. Oleh
karenanya aku ingin kembali menata dengan rapi, aku ingin belajar dari ibuku, belajar
dari kisah Ainun Habibie yang film nya kemaren aku tonton, dan tentu saja
belajar langsung dari kekasihNya. Bahwa Cinta bukan hanya sekedar suka, tapi
ada nilai-nilai kemuliaan secara kasat mata, betapa pun kita menamai cinta pada
seseorang sebelum Allah izinkan, itu bukan cinta, tapi hanya rasa suka yang
terlalu di dramatisir sehingga kita yakini bahwa itu cinta. Cinta datang karena
Allah anugerahkan, ada jaminan kesucian, saling menguatkan, saling
menghebatkan, seperti cinta Ainun pada Habibie pun sebaliknya, hingga pada
akhirnya, terbukti bahwa cinta tetap berlabuh walau telah terpisah, perasaan
tulus itu tertuang dalam tulisan sederhana ini, dari Pak Habibie untuk Ibu
Ainun..
“ Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu,
bukan itu.Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada
akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu
untuk pergi, aku sangat tahu itu.Tapi yang membuatku tersentak sedemikian
hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan
dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi
nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa
kosong melompong, hilang isi.Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang
tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. Pada airmata yang jatuh kali ini, aku
selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada
kenangan pahit manis selama kau ada. Aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya
terlalu sebentar kau disini. Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu
sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang
baik. Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi
kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta,
sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini. Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan
kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.Selamat
jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,”
Itulah
kebesaran mencintai atas dasar kecintaan pada yang Maha Penggenggam cinta.
Seperti perkataan Rumi, yang hatinya tengah dipenuhi cinta,
“ sesungguhnya cinta abadi akan mengubah – dengan
izin Allah Ta’ala – yang pahit menjadi manis, tanah menjadi emas, kekeruhan
menjadi kejernihan, sakit menjadi kesembuhan, penjara menjadi taman,penyakit
menjadi nikmat, paksaan menjadi kasih, malam menjadi siang, kegelapan menjadi
cahaya, dan kekerasan menjadi kelembutan. Cintalah yang melunakkan besi,
mencairkan batu, dan membangkitkan orang yang mati serta meniupkan kehidupan
baru ”
Kata-kata
puitis yang lahir dari jiwa, mungkin banyak yang mengatakan lebay nan alay,
tapi kalimat itu Allah yang tuntun, Ia tiupkan ruh pada hati yang menjaga
cintanya. Kalaulah dengan cinta itu membuat hati menjadi rungsing, tidak
tenang, sedih, kesal, marah, harapan seolah kosong, dan berbagai perasaan
lainnya, tapi kalaupun dirasa bahagia, bahagianya terasa hambar, maka itulah
cinta yang tidak lahir dari rasa kecintaan kita pada Allah.
Semoga
Allah memilih kita untuk menjadi salah satu yang Allah anugerahkan untuk
memiliki cinta yang langsung Ia tuntun.
Semoga
bermanfaat teman,,^_^
*efek
nonton Ainun Habibie, hhe
Kaki
Gunung Manglayang, 07.20”

Komentar
Posting Komentar