NulisBarengIbu (Ia-lah Cinta)
Hari ibu telah lewat, dan aku melewatkannya! Karena bagiku hari ibu itu setiap saat yang tertuang dalam secangkir teh di pagi hari, sepiring nasi goreng sebagai sarapan sebelum pergi, juga rapalan doa yang mengiringi. Dari kecil hingga sekarang, bahkan sampai aku telah punya anak seperti ini, wanita embun itu selalu menciptakan surga di rumah kami, dan surga itu tetap terbawa pada rumah tangga aku dan suami.
Mama, begitu aku menyebutnya...
Kini ia berada di dekatku, nyaris berhadapan, hanya saja ia tengah sibuk mencermati tumpukan evaluasi muridnya. Setua ini, ia masih saja semangat mengabdikan dirinya untuk pendidikan yang sudah hampir 30 tahun lamanya. Ibuku hebat bukan, dari ia lah aku belajar banyak tentang kehidupan. Namun ada satu hal yang ingin ku ketahui lebih dalam, ialah tentang cinta. Cinta yang ia berikan untuk banyak orang, maka kuberanikan untuk bertanya tentang banyak hal..
"Mah, sampai kapan mamah mau disibukan dengan tugas sekolahan seperti ini?"
Ibuku menoleh sejenak, lalu memberi seulas senyum yang menyejukan.
"Kamu bosan melihatnya ya, Ni? Tinggal 3 tahun lagi usia mamah genap 60 tahun, di saat itulah mamah akan berhenti. Darisinilah mamah mengais rezeky, proses pendidikan telah memberikan banyak hal, selain gaji yang mamah dapat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mamah juga bisa menyibukan diri dalam hal yang berarti. Ya itung-itung sumbangsih untuk negri, kan?"
" Ia mah. Selain karena itu semua, ada satu hal yang menjadi benang merahnya, ialah cinta! Cinta mamah begitu besar untuk pendidikan, apalagi untuk keluarga, jauh lebih besar lagi. Oh ya, bisa mamah ceritakan, bagaimana kisah cinta mamah dimasa silam, dengan AApa (bapak) misalnya?"
kali ini mamah tersenyum getir, seperti enggan mengenang masa lalunya..
"Semua yang terjadi di kehidupan mamah seperti sinetron, Ni. Ada hal-hal yang sulit dimengerti oleh nalar, tak sedikit pun mamah membayangkan akan menikah dengan Apa, ah tapi takdir, mamah harus menikah dengan bapakmu. Ketika Apa melamar, entahlah, tiba-tiba saja mamah mau."
"Lalu bagaimana setelahnya Mah, apa yang terjadi selama mamah berumahtangga dengan Apa?"
"Yang terjadi hanya menyisakan sakit lahir batin, rasa cinta bapakmu terlalu besar, hingga ia tak tahu bagaimana cara mengekspresikannya dengan benar. Over posesif kalau kata anak jaman sekarang. Rasa cemburu itu tumpah kadang dalam bentuk teriakan, pandangan sinis, sampai mendarat sebuah pukulan. Itulah mengapa mamah memilih untuk membawamu dan kakak-kakakmu pergi saat itu, Mamah tak sanggup lagi setelah puluhan tahun bertahan."
"Mamah menyesal?"
"Ini pertanyaan paling sulit, dibalik rasa sakit itu, Mamah punya harta yang tak ternilai oleh uang, kebahagiaan yang tak berujung.."
"Apa itu, Mah?"
"KALIAN, anak-anak Mamah yang luarbiasa. Masih ingatkah, Ni. Bagaimana kita smeua berjuang mempertahankan hidup setelah berpisah dengan bapakmu?."
"Aku ingat mah, kita semua bisa bertahan karena cinta dan pengorbanan mamah yang begitu hebat, apa yang membuat mamah bisa sehebat itu?"
"KALIAN, anak-anak Mamah. Mamah rela melakukan apa pun untuk kalian, demi masa depan yang lebih baik, gaji PNS waktu itu tak seberapa, maka mamah ikhlas tak tidur semaleman karena harus membuat kue pita untuk kita jual esok harinya, atau begadang untuk menyelesaikan sebuah tas rajut yang telah di pesan, pulang mengajar di sekolah langsung membantu masak disana sini demi uang tambahan."
"Mamah luar biasa. Aku ingat, ketika aku kelas 1 SD, aku menangis sendirian di depan pintu rumah kontrakan menunggu mamah yang tak kunjung pulang padahal sudah lewat magrib, begitu keras mamah mencari uang untuk kita, apa yang mamah rasakan pada saat itu?"
"Lelah yang membahagiakan, Allah beri kekuatan pada mamah lebih dari ibu rumah tangga biasa, berarti Allah percaya bahwa mamah mampu melewati masa-masa sulit itu, sampai puncaknya Allah uji mamah dengan penyakit gagal ginjal, mengerikan ya Ni! Karena tak mampu berobat rutin ke dokter akhirnya mamah harus berjuang dengan makan tanpa garam selama berbulan-bulan lamanya, dan kalian setiap sore harus turun ke sawah mencari daun jonge yang tumbuh liar di pesawahan. Air perahan daun jonge itu pahit sekali, tapi mamah paksakan minum untuk sebuah kesembuhan, mamah berjuang keras agar tetap bisa mendampingi anak-anak mamah tumbuh besar."
Aku menitikan air mata jika mamah sudah menceritakan hal itu, apalagi mengingat mamah pada saat wajahnya membengkak karena sakit ginjal, sebuah kenangan yang selalu menyesakan ketika mengingatnya.
"Lagi-lagi apa yang bisa menguatkan mamah pada saat sakit itu?"
"Sudah mamah katakan KALIAN, kelima anak mamah. Mamah bangga, karena mamah bisa melewati masa sulit itu bersama kalian, mamah punya anak yang mengerti keadaan orang tua, kakak-kakakmu harus bekerja keras membantu mamah dengan membuat tas rajut agar bisa tetap sekolah, berjualan apa saja di sekolah agar bisa punya bekal, semangat kalian lah yang membuat mamah berjuang keras melawan penyakit ini. Dan keajaiban itu akhirnya datang ya, Ni. Mamah bisa sembuh total tanpa berobat ke dokter, Allah benar-benar sayang pada kita."
Aku mengangguk dan tertunduk,
"kami-lah yang benar-benar bangga pada mamah, wanita paling hebat di dunia, cinta mamah yang begitu besar itulah yang menjadi kekuatannya. Dan sampai sekarang, cinta itu tidak hanya tumbuh untuk kami saja, tapi pada semua orang, sudah lebih dari 5 tahun mamah rutin memberi kebahagiaan untuk kampung kita ketika bulan puasa tiba. Dengan penuh keringat mamah bersusah payah memasak untuk berbuka, tidak hanya untuk keluarga tapi untuk masyarakat juga. Anehnya, tak sedikitpun rasa lelah ataupun keluh kesah yang terlihat di wajah mamah. Selama 30 hari full mamah berinfak harta dan tenaga, apa yang membuat mamah bisa seikhlas itu?"
"Semua itu atas dasar rasa syukur kepada Allah, kita ini tidak ada artinya tanpa Allah, Allah yang memberi rizki, Allah yang menguatkan kita, betapa besar kasih sayang Allah untuk kita, maka itu pun tak ada artinya jika dibandingkan dengan kasih sayangNya."
"Mamah benar, semua karena 'Cinta Yang Maha', aku belajar banyak hal dari mamah, ada satu pertanyaan lagi, Mah. Masih adakah keinginan mamah yang belum tercapai?"
"Alhamdulillah, keinginan mamah yang paling utama sudah tercapai, yaitu melihat anak-anak sukses dan bahagia. Sekarang rasanya tak begitu ingin hal-hal yang berisi duniawi, namun, keinginan mamah saat ini adalah..."
"Apa itu mah?"
"Mamah ingin memberangkatkan ketujuh adik mamah umrah, mengunjungi bumi Allah, mamah ingin mereka merasakan betapa nikmatnya beribadah di depan ka'bah, semoga Allah kabulkan keinginan mamah ini, mamah tak ingin egois, kebahagiaan itu bisa kita dapat kala kita bisa membahagiakan orang lain."
Deg!! Tidak ada lagi kata-kata lain, itulah ibuku, yang hidupnya ia abdikan untuk kebahagiaan orang-orang disekitarnya. Allah, betapa Engkau sangat baik, menurunkan wanita surga di kehidupan kami.
Obrolan kami terhenti ketika anakku terbangun dan menangis,
"Dan ada satu hal lagi doa mamah yang paling penting.."
"Apa lagi, Mah?"
"Mamah selalu berdoa pada Allah, agar senantiasa memberikan kebahagian untuk anak dan cucu mamah, segala kepahitan sudah mamah rasakan, semoga yang tersisa hanya kebahagiaan."
sontak ibuku berdiri lalu mendekat dan menggendong cucunya dengan penuh kasih sayang.
Aku menatapnya dengan bangga.
Ibuku yang paling hebat.
Kasihmu benar-benar tiada ujung, Mah!!
Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.
Terimakasih untuk 2 jam yang mengharukan ini, Mah!!
Kita akan merayakan hari ibu setiap waktu.
PROUD OF YOU,MOM..
.Anakmu, yang sampai saat ini masih ingin selalu bermanja kepadamu..
Mama, begitu aku menyebutnya...
Kini ia berada di dekatku, nyaris berhadapan, hanya saja ia tengah sibuk mencermati tumpukan evaluasi muridnya. Setua ini, ia masih saja semangat mengabdikan dirinya untuk pendidikan yang sudah hampir 30 tahun lamanya. Ibuku hebat bukan, dari ia lah aku belajar banyak tentang kehidupan. Namun ada satu hal yang ingin ku ketahui lebih dalam, ialah tentang cinta. Cinta yang ia berikan untuk banyak orang, maka kuberanikan untuk bertanya tentang banyak hal..
"Mah, sampai kapan mamah mau disibukan dengan tugas sekolahan seperti ini?"
Ibuku menoleh sejenak, lalu memberi seulas senyum yang menyejukan.
"Kamu bosan melihatnya ya, Ni? Tinggal 3 tahun lagi usia mamah genap 60 tahun, di saat itulah mamah akan berhenti. Darisinilah mamah mengais rezeky, proses pendidikan telah memberikan banyak hal, selain gaji yang mamah dapat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mamah juga bisa menyibukan diri dalam hal yang berarti. Ya itung-itung sumbangsih untuk negri, kan?"
" Ia mah. Selain karena itu semua, ada satu hal yang menjadi benang merahnya, ialah cinta! Cinta mamah begitu besar untuk pendidikan, apalagi untuk keluarga, jauh lebih besar lagi. Oh ya, bisa mamah ceritakan, bagaimana kisah cinta mamah dimasa silam, dengan AApa (bapak) misalnya?"
kali ini mamah tersenyum getir, seperti enggan mengenang masa lalunya..
"Semua yang terjadi di kehidupan mamah seperti sinetron, Ni. Ada hal-hal yang sulit dimengerti oleh nalar, tak sedikit pun mamah membayangkan akan menikah dengan Apa, ah tapi takdir, mamah harus menikah dengan bapakmu. Ketika Apa melamar, entahlah, tiba-tiba saja mamah mau."
"Lalu bagaimana setelahnya Mah, apa yang terjadi selama mamah berumahtangga dengan Apa?"
"Yang terjadi hanya menyisakan sakit lahir batin, rasa cinta bapakmu terlalu besar, hingga ia tak tahu bagaimana cara mengekspresikannya dengan benar. Over posesif kalau kata anak jaman sekarang. Rasa cemburu itu tumpah kadang dalam bentuk teriakan, pandangan sinis, sampai mendarat sebuah pukulan. Itulah mengapa mamah memilih untuk membawamu dan kakak-kakakmu pergi saat itu, Mamah tak sanggup lagi setelah puluhan tahun bertahan."
"Mamah menyesal?"
"Ini pertanyaan paling sulit, dibalik rasa sakit itu, Mamah punya harta yang tak ternilai oleh uang, kebahagiaan yang tak berujung.."
"Apa itu, Mah?"
"KALIAN, anak-anak Mamah yang luarbiasa. Masih ingatkah, Ni. Bagaimana kita smeua berjuang mempertahankan hidup setelah berpisah dengan bapakmu?."
"Aku ingat mah, kita semua bisa bertahan karena cinta dan pengorbanan mamah yang begitu hebat, apa yang membuat mamah bisa sehebat itu?"
"KALIAN, anak-anak Mamah. Mamah rela melakukan apa pun untuk kalian, demi masa depan yang lebih baik, gaji PNS waktu itu tak seberapa, maka mamah ikhlas tak tidur semaleman karena harus membuat kue pita untuk kita jual esok harinya, atau begadang untuk menyelesaikan sebuah tas rajut yang telah di pesan, pulang mengajar di sekolah langsung membantu masak disana sini demi uang tambahan."
"Mamah luar biasa. Aku ingat, ketika aku kelas 1 SD, aku menangis sendirian di depan pintu rumah kontrakan menunggu mamah yang tak kunjung pulang padahal sudah lewat magrib, begitu keras mamah mencari uang untuk kita, apa yang mamah rasakan pada saat itu?"
"Lelah yang membahagiakan, Allah beri kekuatan pada mamah lebih dari ibu rumah tangga biasa, berarti Allah percaya bahwa mamah mampu melewati masa-masa sulit itu, sampai puncaknya Allah uji mamah dengan penyakit gagal ginjal, mengerikan ya Ni! Karena tak mampu berobat rutin ke dokter akhirnya mamah harus berjuang dengan makan tanpa garam selama berbulan-bulan lamanya, dan kalian setiap sore harus turun ke sawah mencari daun jonge yang tumbuh liar di pesawahan. Air perahan daun jonge itu pahit sekali, tapi mamah paksakan minum untuk sebuah kesembuhan, mamah berjuang keras agar tetap bisa mendampingi anak-anak mamah tumbuh besar."
Aku menitikan air mata jika mamah sudah menceritakan hal itu, apalagi mengingat mamah pada saat wajahnya membengkak karena sakit ginjal, sebuah kenangan yang selalu menyesakan ketika mengingatnya.
"Lagi-lagi apa yang bisa menguatkan mamah pada saat sakit itu?"
"Sudah mamah katakan KALIAN, kelima anak mamah. Mamah bangga, karena mamah bisa melewati masa sulit itu bersama kalian, mamah punya anak yang mengerti keadaan orang tua, kakak-kakakmu harus bekerja keras membantu mamah dengan membuat tas rajut agar bisa tetap sekolah, berjualan apa saja di sekolah agar bisa punya bekal, semangat kalian lah yang membuat mamah berjuang keras melawan penyakit ini. Dan keajaiban itu akhirnya datang ya, Ni. Mamah bisa sembuh total tanpa berobat ke dokter, Allah benar-benar sayang pada kita."
Aku mengangguk dan tertunduk,
"kami-lah yang benar-benar bangga pada mamah, wanita paling hebat di dunia, cinta mamah yang begitu besar itulah yang menjadi kekuatannya. Dan sampai sekarang, cinta itu tidak hanya tumbuh untuk kami saja, tapi pada semua orang, sudah lebih dari 5 tahun mamah rutin memberi kebahagiaan untuk kampung kita ketika bulan puasa tiba. Dengan penuh keringat mamah bersusah payah memasak untuk berbuka, tidak hanya untuk keluarga tapi untuk masyarakat juga. Anehnya, tak sedikitpun rasa lelah ataupun keluh kesah yang terlihat di wajah mamah. Selama 30 hari full mamah berinfak harta dan tenaga, apa yang membuat mamah bisa seikhlas itu?"
"Semua itu atas dasar rasa syukur kepada Allah, kita ini tidak ada artinya tanpa Allah, Allah yang memberi rizki, Allah yang menguatkan kita, betapa besar kasih sayang Allah untuk kita, maka itu pun tak ada artinya jika dibandingkan dengan kasih sayangNya."
"Mamah benar, semua karena 'Cinta Yang Maha', aku belajar banyak hal dari mamah, ada satu pertanyaan lagi, Mah. Masih adakah keinginan mamah yang belum tercapai?"
"Alhamdulillah, keinginan mamah yang paling utama sudah tercapai, yaitu melihat anak-anak sukses dan bahagia. Sekarang rasanya tak begitu ingin hal-hal yang berisi duniawi, namun, keinginan mamah saat ini adalah..."
"Apa itu mah?"
"Mamah ingin memberangkatkan ketujuh adik mamah umrah, mengunjungi bumi Allah, mamah ingin mereka merasakan betapa nikmatnya beribadah di depan ka'bah, semoga Allah kabulkan keinginan mamah ini, mamah tak ingin egois, kebahagiaan itu bisa kita dapat kala kita bisa membahagiakan orang lain."
Deg!! Tidak ada lagi kata-kata lain, itulah ibuku, yang hidupnya ia abdikan untuk kebahagiaan orang-orang disekitarnya. Allah, betapa Engkau sangat baik, menurunkan wanita surga di kehidupan kami.
Obrolan kami terhenti ketika anakku terbangun dan menangis,
"Dan ada satu hal lagi doa mamah yang paling penting.."
"Apa lagi, Mah?"
"Mamah selalu berdoa pada Allah, agar senantiasa memberikan kebahagian untuk anak dan cucu mamah, segala kepahitan sudah mamah rasakan, semoga yang tersisa hanya kebahagiaan."
sontak ibuku berdiri lalu mendekat dan menggendong cucunya dengan penuh kasih sayang.
Aku menatapnya dengan bangga.
Ibuku yang paling hebat.
Kasihmu benar-benar tiada ujung, Mah!!
Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.
Terimakasih untuk 2 jam yang mengharukan ini, Mah!!
Kita akan merayakan hari ibu setiap waktu.
PROUD OF YOU,MOM..
.Anakmu, yang sampai saat ini masih ingin selalu bermanja kepadamu..


ToT
BalasHapus