Aku dan Sang Pemburu


Pada sebuah lorong, aku melihat kegelapan.
Yang ku tengok hanya jendela kelam.
Tersudut, meratap sendirian.
Berdiam, maka bersiaplah untuk tenggelam.

Tuhan murka dengan menghentakkan kakinya diatas bumi.
Aku Hanya menyeringai dengan gemingan tak tahu diri.
Dinding-dinding tua merapuh, dimakan sang pemburu.
Menjadi pertanda, berapa lama ku hidup sebagai sosok ambigu.

‘Tidak cemburukah, kepada mereka yang berdamai dengan kehidupan.
Berlumur keringat, namun jelas arahan.
Kepada siapa engkau akan pertanggungjawabkan.
Jika tidak berdarah-darah di persinggahan jalan.
Maka bersiaplah untuk berakhir di pusara malang.’

Cukup sudah, semua lena menjadi sisa-sisa penyesalan.
Sebuah sinar terang, menunggu untuk kau gapai.
Berdirilah, saatnya menatap kemasa depan.
Tinggalah sebagai kenangan, jamuan dari-Nya jangan sampai terlewatkan, lagi!

Sonia S Sun*

Komentar

  1. halo.. blognya asik! salam kenal, ya.. :)

    BalasHapus
  2. wow, prosanya menampar. Keep on mba! \m/

    BalasHapus
  3. Waahh,,salam kenal riesna dan aprie..saya juga suka banget sama karya2 temen2..:) makasi ya..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer