Kembali
Aku kembali menari di atas
huruf-huruf yang terinjak,
Kembali, ada kata pergi atau bahkan
menghilang sebelum kata “kembali” itu muncul.
Kembalilah, supaya engkau tahu
bahwa dunia sampai saat ini masih saja carut marut dengan sifat egois manusia,
termasuk untuk kasus kepergianmu yang entah dan nyaris terlelan masa.
Lini masa (baca:timeline) yang
selama ini ramai oleh berbagai macam rupa seperti nasihat singkat, cerita
hikmah, pengalaman pribadi, atau celoteh tak penting rupanya betul-betul
terkubur senyap.
Lihatlah kalender yang terpasang
cantik di tembok itu, ia masih saja utuh bertengger pada bulan juni, tanyakan
pada anak kecil yang sedang melumat lollipop di depan televisi, ia jauh lebih
tahu.
Jika ditanya “bulan apa
sekarang?” ia pasti akan menjawab bahwa
ini “bulan desember”, karena belum lama ini tetangganya yang kristiani baru
saja merias pohon cemara dengan sejumlah lonceng dan hiasan lilin, lengkap
dengan iklan-iklan yang muncul di layar Sharp 34 inci yang sedang di lihatnya,
disana banyak sekali ucapan “selamat natal dan tahun baru”, ini bukan tentang
natal atau ucapan selamat tahun baru, tapi ini tentang engkau yang katanya akan
memproklamirkan sebuah kata “kembali”.
Kembalilah, karena sejauh apapun
dunia meninggalkanmu, kakimu akan tetap menempel dengan tanah. Bermetamorfosis
dengan tanggal-tanggal dikalender yang terus berganti, maka sejenak gulirkan
kalender itu pada bulan yang seharusnya, “Engkau kini berada dibulan ini dan
tanggal ini” hanya tinggal menunggu puluhan jam untuk berganti tahun.
Semoga ingatan bahwa suatu saat, di
akhirat kelak, akan ada masa dimana kita akan berkumpul di padang masyar untuk
diminta pertanggungjawaban, tidak ikut menghilang dalam otakmu. Ku lihat jiwa
dan ragamu belum sanggup menghadiri peristiwa yang sudah pasti itu.
Namun Jangan khawatir, sini…aku
ingin mengajakmu berlatih, agar kelak, di momen penting itu kita siap.
Anggaplah, berita menghilangmu di
tahun ini adalah dunia yang engkau kayuh bersama sesiapa yang menemanimu
berlayar, dan perlahan tapi pasti, engkau sampai dititik ini. Satu titik yang
menjadi fase bergulirnya zaman. Aku telah menunggu, jauh sebelum engkau sampai
di tempat ini, lalu perlahan mendekatimu. Ada sebuah aturan yang mengharuskanmu
menjawab semua pertanyaan yang kulontarkan. Kulihat wajahmu panik sebelum
senjata di tembakkan, maka biarlah pertanyaan itu kurangkum menjadi satu,
jawablah pertanyaan singkat ini :
“ Apa saja yang telah engkau
lakukan selama berada di pelayaran?”
Seketika kepalamu tertunduk menatap
tanah bertuliskan “finish” yang terpisah satu langkah dengan tanah bertuliskan
“start”, sebelum melanjutkan ke permulaan berikutnya, akhiri perjalananan
terakhirmu ini dengan evaluasi diri, muhasabah namanya.
Kembalilah, bahwa sebelum sampai pada
garis yang benar-benar akhir, engkau masih bisa berpeluh menghilangkan noda
yang tertempel selama perjalanan.
Maka jangan terburu-buru
mengucapkan “selamat tahun baru”, sebelum engkau tersungkur bermuhasabah diri.
Ini adalah tentang waktu yang sejatinya tidak akan pernah bisa kembali. Tapi
engkau masih bisa kembali dalam ruh yang siap untuk kembali pada sang pemilik
waktu.
Maka kembalilah..
SoniaSsun*


Komentar
Posting Komentar