Komplikasi Keinginan
Ini adalah suara yang datang dari
bisikan-bisikan gaib bernama keinginan.
Kita, selayaknya manusia yang
dibekali akal juga pikiran, terkadang tidak bisa mengendalikan buasnya keinginan.
Aku tak mengerti apa itu sebuah “ingin”, apa serupa dengan mahluk bernama
“nafsu” yang juga diwariskan kepada syaithan dan hewan? Ntahlah, yang pasti segumpal daging ini sedang racau karena terlalu
banyak ingin.
Suatu waktu, yang bernama saat
ini, tepat ketika detak jarum jam terasa
sangat lambat, rasanya hati siap meledak seperti atom yang meletup, rasa “keinginan”
begitu besar menyeruak, namun seperti kasih yang tak sampai, atau kata-kata
pilu berbunyi “pungguk yang merindukan bulan”, seperti itulah nasib “keinginan”
pada akhirnya.
Namun, aku patut berbangga dan
berterimakasih yang sebesar-besarnya kepada Sang Pemilik Jiwa dan Raga, bahwa
aku tercipta sebagai seorang manusia. Setidaknya, menjadi manusia dalam ukuran
bentuk dan rupa, meski dalam wujud jiwa, hati, serta akal masih tertatih-tatih
untuk meraba dan memastikan bahwa semuanya telah berfungsi sebagaimana mestinya,
termasuk untuk menanggapi sejuta ingin yang tengah berkecamuk.
Dear my sun..
Ini kalimat penghibur yang sangat
manjur untuk jiwa-jiwa yang sesak oleh banyak keinginan.
Bahwasannya :
“Allah akan memberikan apa yang
kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan” atau begini..
“ Apa yang menurutmu baik, belum
tentu menurut Allah itu baik, pun yang menurutmu tidak baik, bisa jadi menurut
Allah hal itu baik”
Dengan demikian, Maka munculah dalam
sekotak ring yang akan mempertontonkan sebuah pertarungan antara “keinginan”
dan “kebutuhan”. Siapa yang akan menjadi pemenang?
Ia tergantung dari apa yang kita
ikhtiarkan dan tentu saja tergantung pada hak prerogatif Sang MAHA.
Tapi manusia, Ah!! Ia mahluk rumit
yang terkadang lupa dengan kalimat sakti diatas, sisi lain bernama nafsu ini
lebih mendominasi dan mewujud kata
“egois”.
Celakanya, jika berbagai macam
keinginan itu datang dari segala arah mengepung jiwa serta raga yang tak
berdaya, limbung, dan terjatuh pada jurang yang sangat dalam. Merangkak ke atas
sulit, berteriak percuma, dan menangis apa lagi. Ini semacam komplikasi yang
sering ku temui pada jiwa-jiwa pesakitan, banyak diantaranya menyerah pada
keadaan, dan berakhir dalam kematian. Tragis!
Namun, dear my sun..
Begitu juga dengan keinginan yang
katanya membuat ruang dadamu sesak tak tertahan.
Jika rasa itu terus engkau
pelihara, maka bersiaplah untuk terkena penyakit “komplikasi keinginan”, memang
tidak serta merta berujung kematian, tapi bisa jadi mematikan akal dan perasaan (stress). Jika nikmat akal dan
perasaan itu telah Allah cabut dalam diri kita yang tak punya apa-apa selain
darinya, maka akan seperti apakah wujud kita kelak ketika kembali kepada-Nya??
Manusia, yang menjadikan ia manusia
adalah IMAN, sebuah keyakinan utuh akan takdir Tuhan. Jika keinginan itu belum
Allah Kabul, bukan berarti Ia tak sayang, bisa jadi hanya menundanya untuk
beberapa saat, atau bahkan digantikan dengan hal yang jauh lebih baik..
Lahaula walaquwata ilabillah..
Untuk hati yang terjejal keinginan,
lepaskan semua pada lautan luas, biarkan ia berlayar mengikuti arus sang
pemilik lautan.
SoniaSsun*






Komentar
Posting Komentar