Miss Independent..
#With
Komalia Dewi dan Isti Umi
Sendirian
itu bukan berarti tak ada teman,,
Aku
dan kamu adalah teman,,
Tapi
bukan berarti harus kesana kemari bersama,,
Aku
dengan hidupku, pun kamu,,
Kita
berada dalam ruang yang beda,,
Namun
toh pada akhirnya,,
Tetap
pada satu dimensi yang sama..
Awal
perjumpaan pada saat KUBA..
“
Saya mala, M A L A” sekali lagi menegaskan..
“
Oh mala, asalnya darimana?”
“JAKARTEE”
hha..padahal lebih tepatnya adalah “TANGGERANG”. Sempat heran saat itu,, “nih
anak, gayanya muslimah banget, tapi kalau ngomong ko kaya toa ya!!” hwaa…jujur
setelah 4 taun..:p, semakin lama semakin dekat sama anak Jakarta yang ngaku
namanya “mala” ini. Berbekal pada kesamaan suka ngobrol, maka pertemanan pun
semakin intens di semester-semester awal. Ia berbaik hati untuk berbagi kamar
kosan pertamanya yang super sempit itu pada saya yang tak ada tempat bernaung
(hiks). Berhimpit-himpitan namun terasa menyenangkan. ^_^ . Tidak hanya di kosan Mala, tapi esok lusa
kami berpindah merantau ke kosan Isti Umi..hmm…sesosok yang kini menjadi lebih
fenomenal dari sebelumnya.. ^_^
---------------------------------------------------
“Komalia
Dewi” sebuah nama yang baru beberapa hari setelahnya saya kenal, terasa asing
karena dari awal telah memproklamirkan “MALA”. Senyum2 kalau ingat mala, dulu..
malasnya sebelas dua belas dengan si saya. Mengerjakan tugas ala kadarnya,
lagi-lagi fokus berorganisasi tampak lebih menarik dari hal lainnya. Big thanks
for u my sist, selama satu tahun telah berbaik hati mendampingi saya di PSDO.
Embel-embel “pejuang pengaderan” seolah lebih lekat disandang Mala, tidak hanya
di HIMADIKSI, tapi di ASSALAM pun demikian, tidak hanya di Assalam tapi BEM REMA
juga. Subhanallah..
Semakin
hari semakin sulit untuk mendeteksi keberadaan Mala. Fitri Kurnia yang
disinyalir menjadi teman satu kosannya pun diragukan untuk mengetahui semua
aktifitas Mala. Namun, satu hal yang perkembangannya sungguh luar biasa. Mala
jadi super duper rajin di kelas, sempat saat itu saya berbangga pada diri
sendiri karena telah membuat rekor datang paling awal padahal rumah jauh (baca:
ujungberung:p) , tapi setelah memasuki kelas, rasa bangga itu pun luntur karena
dikalahkan oleh Mala yang sedang duduk manis sendirian. Hwaa..kalah deh.. terbukti,
IP Mala pun nyaris sempurna saat itu. Ah, cemburu saya,,
Lalu
apa kabar Mala sekarang?? Hmm,,di saat orang lain lebih memilih untuk fokus
akademik saja, Mala malah memilih fokus di kedua nya dan memilih sukses pula
dikeduanya, luar biasa!! Menjadi beda, menjadi awal dari julukan “miss
independent” nya. Itu julukan muncul karena melihat kesehariannya yang seolah
punya dunia sendiri. Kesana kesini seorang diri,, hebat!! Itu julukan sayang
dariku dan leni ceu..:p hhe..
----------------------------------
Sekarang
giliran Isti Umi Maesaroh, yang kini lebih dikenal dengan sebutan “ISTUM” Istri
tambatan para Umi atau Mertua..aamiin..hhe..(aziss senyam senyum..)hha..
--------------------------------
Masa-masa
manja adalah ketika saya meminta umi untuk membuatkan sayur sup untuk makan
siang, sesekali menatap puluhan buku yang tertata rapi di sebuah lemari yang
super besar. Mengambil acak apa saja yang menarik, lalu menyimpan pada yang
bukan tempatnya. Tapi layaknya bagai seorang ibu, tidak ada rasa kesal, hanya
menatap lalu tersenyum. Ah, kedewasaannya sungguh luar biasa.
Saat
KUBA saya sama sekali tidak melihat keberadaannya, entah saya yang gak gaul,
atau malah Umi nya yang emang ga ‘nongol’. Namun, pada saat awal-awal
perkuliahan di JAPER, saya mulai ‘ngeh’ akan sosoknya, terlihat menonjol karena
nampak berbeda dengan yang lainnya. Wow, ada Teh Ninih di kelas kita..^_^..
Seperti
yang sudah dikatakan di awal, sering saya mampir ke kosannya. Itu cukup membuat
saya mengenal lebih dari sosoknya yang unik ini. Rantauan asal lampung ini
punya segudang cerita yang mengharukan.
Satu hal perkataannya yang sampai saat ini masih saya ingat dan membuat
saya malu adalah..
“
Saya malu kalau harus minta uang dari orang tua, Sonia..” Wow,,saat itu masih
semester-semester awal, dan umi sudah berfikir ke arah situ. Maka saya pun
tertarik untuk lebih jauh mengenalnya, jika diperhatikan, memang Umi itu luar
biasa, segala sesuatunya bisa ia lakukan sendiri. Makan tak membeli dari warteg
siap saji, ia selalu menyempatkan waktu untuk masak, dan untuk memenuhi
kebutuhan sehari-harinya, ia pernah menjadi seorang pengasuh anak, menjadi guru
bimbel di beberapa tempat, menjual buku pesanan anak2, punya bisnis dibidang
fashion dengan brand sendiri, dan aktif sebagai salah satu agent asuransi. Ini
yang saya tahu, pasti jauh lebih banyak dari itu. Kerennn…dan hasilnya telah
terpampang nyata, kini Umi jauh lebih dewasa, meski sosoknya menjadi lebih
controversial, namun dibalik itu semua saya bangga akan kehidupannya. Dengan
demikian, sosoknya sama dengan Mala “miss Independent”.
“Tidak
perlu menunggu orang lain untuk menjalani hari-hari, percayalah akan kemampuan
diri sendiri, cukuplah Allah yang menemani…”
Dibalik
apa pun candaan kami untuk Mala dan Umi, sosok kalian adalah sosok yang menginspirasi.
We prouf of you my sista..Semoga Allah senantiasa melindungi kalian dimana pun
kalian berada..
07
Maret 2013
Uhibbukum Fillah..

Komentar
Posting Komentar