Standing Applause untuk Sepasang Sandal Jepit
Seorang teman laki-laki kemarin
menghadiri sebuah acara kepenulisan, namun langkah santainya terhenti di pintu
gerbang menuju tempat acara tersebut terselenggara, seorang satpam menyapanya
dengan tatapan yang sedikit berbeda, ada sebuah isyarat untuk tidak meneruskan
langkahnya menuju ruangan.
“Maaf Dek, ada
sebuah peraturan, bahwa yang masuk ke gedung ini harus memakai sepatu” teman
saya baru menyadari bahwa ia memang memakai sandal, padahal biasanya menggunakan
sepatu, untungnya ini sandal masih sedikit formal, terbuat dari kulit dan
warnanya tidak mencolok, tapi tidak biasanya kali ini ia lupa. Satpam tersebut,
berdiri tepat di depan teman saya itu.
Teman saya
melayangkan sebuah senyum yang tersusun atas kombinasi rasa malu sekaligus
jengkel.
“Maaf Pak, saya
lupa, tapi tolong izinkan saya masuk ke gedung ini, lain kali saya pasti
memakai sepatu” ini merupakan sebuah pernyataan berat untuk seseorang yang
sebetulnya berstatus tamu dan tidak tahu apa-apa namun seketika mendapat sebuah
teguran yang lumayan menganggu ketertiban hatinya.
Begitulah adanya, peraturan
memang harus ditegakkan, sesiapa yang melanggar harus siap menerima
konsekuensinya, namun kemudian, ada sesuatu yang menggelitik hati saya ketika
keesokan harinya menghadiri sebuah acara yang sama.
Sedari awal memang sudah
diniatkan, bahwa saya dan teman saya yang kece akan menghadiri sebuah acara
kepenulisan yang diadakan oleh FISIP UNPAD, dan memang alasan utamanya karena
teman saya yang kece itu menjadi salah satu pembicaranya, namun kami sangat
menikmati semua sesi dengan pemateri yang berbeda. Tiba saatnya pada sesi yang
katakanlah sebagai sesi “pamuncak” dari rangkaian acara tersebut, yang menjadi
pemateri adalah seorang penulis yang sudah sangat terkenal dengan
karya-karyanya yang fenomenal, seorang penulis yang sangat “special” namun
bingung juga dimana letak kespesialannya. Seketika, saya menjelma menjadi
detektif conan, rasanya otak ini ingin sekali memecahkan sebuah rahasia dimanakah
stempel “special” itu menempel, apa gerangan yang telah membuat orang
berbondong-bondong ingin mencari secuil ilmu yang ada dalam dirinya.
Dengan menguntit pada teman saya yang
mendapat kesempatan khusus dari panitia, maka saya menikmati momen untuk menemui
sang penulis secara special di belakang panggung. Kami tertegun ketika melihat
seseorang dengan posisi duduk sangat santai, ia hanya memakai sweter dengan
paduan kupluk dikepalanya, tangan sibuk tergerak untuk menandatangani tumpukan
buku yang ada di hadapannya, oh, inikah sosok sang penulis itu, tentu jauh dari
ekspetasi kami, panitia mulai menyapanya dan memberi kode padanya bahwa ada dua
orang “imut” yang kini ada di hadapannya,
“Bang, kenalin,
ini teh tsani yang kemarin menjadi pemateri juga di acara ini” tangannya
terhenti dan menoleh kearah kami,
“Asalamualaikum
bang, salam kenal” teman saya menyambutnya dengan sangat lembut
“Oh, terbitan
mizan?” hanya pertanyaan itu yang ia lontarkan..
“Bukan bang, ini
terbitan inspirasi” Sang penulis itu kembali menatap buku-bukunya dan seperti
tidak berminat untuk melanjutkan pembicaraan, Ambooii,, TIIS sekali ini orang, jika hal ini yang membuatnya spesial, rasanya sungguh mengecewakan. Tapi baiklah, barangkali ada sisi lain yang bisa saya ambil untuk dijadikan pelajaran, akhirnya kami bergegas ke jajaran kursi kedua dari depan untuk
menyaksikan workshop kepenulisan tersebut.
Jadwal acara tidak berjalan
sesuai rundown, saya pikir ini hal yang biasa terjadi di Indonesia, sebuah pola
pikir yang terbentuk dengan sendirinya dan akan berdampak sangat fatal dalam
kehidupan, ini harus diluruskan, tapi sudahlah, yang terpenting semua rasa
penasaran saya bisa terjawab hari ini, dan setelah satu setengah jam kemudian,
seorang moderator menginstruksikan kami untuk berdiri menyambut sang pemateri,
alias “orang tiis” yang saya sebutkan tadi. Ia masuk dengan sangat santai dan
kami memberikan standing applause untuk kehadirannya, dan saya seketika
menyadari sesuatu yang mengganjal, mata saya tak henti-hentinya menatap ke
kolong meja, dua kaki yang selalu digerak-gerakkannya ternyata hanya dialasi
sepasang “SANDAL” dan parahnya hanya sepasang “sandal jepit” bermerek salah
satu supermarket yang sering kita kunjungi. Kemarin teman saya ditegur seorang
satpam karena memakai sandal, sedangkan ia dengan bebasnya dan nyamannya
memakai sandal jepit tersebut padahal posisinya adalah posisi sentral yang
dilihat banyak orang.
Kala itu, Ia membuktikan bahwa kehormatan
seseorang tidak bisa dinilai dengan penampilannya, kami seolah tersihir dengan
semua kata yang diucapkannya, rasa kagum mulai menggelembung, dibalik
kesederhanaannya dalam berpenampilan, saya menemukan banyak berlian dalam dirinya,
menjadi apa adanya telah ia contohkan dengan nyata, yang terpenting dalam diri
manusia adalah sebuah “kualitas diri yang dipenuhi ilmu dan ketulusan untuk
menebar manfaat” bukan pemanjaan mata yang ditipu dengan sebuah penampilan yang
ternyata kosong tak berharga.
“Sepasang sandal jepit” telah
berhasil mengubah pola pikir saya, dan ternyata itu tidak sedikitpun menurunkan
harga diri seseorang yang berilmu, inilah jawaban “special” dari pertanyaan
saya, ini pun menjadi pembuktian dari sebuah keterangan ajaib ini:
“Allah
akan meningkatkan derajat orang yang berilmu”
dan memang benar
adanya,
Luar Biasa..
SoniaSsun*



wah sebuah kisah yang sangat bermakna, ;)
BalasHapusTeruslah Menulis...