Mendekap Kematian (kembali)
Ada satu hal yang tak akan pernah berhenti mengejar kita
sampai dapat. Ia-lah KEMATIAN. Sebuah akhir dari kehidupan dunia yang racau
dengan pergulatan iman dan hawa nafsu.
Dalam pagi yang disapa gerimis, kabar itu (kembali) datang,
kabar yang tak pernah behenti menghampiri setiap hari, hanya berganti objek,
dan kini tiba menyapa adik solehah yang dalam kesehariannya tak pernah lelah
menebar dakwah. Juga beberapa hari lalu, kematian tiba pada seorang yang gigih
menginspirasi banyak orang lewat lirik dan lagunya, ia-lah kang Aden, yang juga
pernah ku repotkan dengan berbagai acara keislaman di waktu sekolah dulu. Serta
beberapa bulan kebelakang, seorang ibu muda yang umurnya jauh lebih ranum dari
usiaku, melepas hembusan terakhirnya saat melawan penyakit liver dan
meninggalkan anaknya yang masih balita.
Inalillahi wainailaihi rajiun..
Aku terkejut, pada sebuah peristiwa kematian yang seharusnya
tidak untuk menjadi sebuah kejutan. Karena keberadaannya sudah kita ketahui sejak
lama, dimana ia akan datang tepat pada waktunya. Tak peduli dalih “masih muda”,
“belum siap”, “belum waktunya”, atau pun “belum nikah”. Jangan berharap bisa
bernegosiasi tentang waktu dengannya.
Ini benar-benar membuatku cemas. Ya Rabb, Ya Muqolibbal
qulub, rasanya hati ini benar-benar sulit ku kendalikan, orang lain sudah
berjuang untuk kebaikan banyak orang, sedang aku sendiri masih kelabakan
mengurusi segumpal daging dalam diri yang rasanya sulit ku kendalikan. Aku masih
sibuk menata tempat untuk yang bernama sabar, ikhlas, syukur, ridho, lillah,
dan yang lainnya.
Maka jelas aku tertinggal jauh dari mereka yang urusannya
sudah “Ummat”. Namun, harapan ini masih
besar Robb, entah apa yang bisa menjadikan aku mulia di hadapanMu, tapi aku
ingin, ingin sekali mereguk indahnya iman, indahnya islam, indahnya berpulang,
indahnya akhirat, dan indahnya bertemu dengan yang Maha Indah.
Lahaula,,tunjukillah jalan keindahan itu ya Robb, dengan
Engkau membantuku dalam kepantasan mendapatkanya..
Semoga, engkau yang telah lebih dulu pergi, menjadi hamba
yang berbahagia dengan menyisakan sedikit dosa di dunia, tapi banyak amal untuk
bekal di akhirat. Balasan amal itu menantimu dengan segera, malaikat menunggumu
dengan suka cita, dan bidadari-bidadara tengah siap menyambutmu di pintu surga.
Sampaikan pada mereka, ada banyak hamba-hamba dunia yang menghiba, untuk pergi
sepertimu, kembali pada saat dirinya telah total mengabdi untuk kebaikan dunia
akhirat.
_Selamat Jalan untuk Sesiapa yang telah mencapai garis finish
terlebih dahulu_
SoniaSsun*


Komentar
Posting Komentar