Menemukanmu #Part1
Aku mengenalmu lebih dari aku mengenal diriku sendiri, terkadang aku lupa, dimana sesungguhnya kehidupanku berada, karena rasanya dunia terlalu menuntut banyak hal, hingga aku bosan dan muak mengikuti semua aturannya, aturan yang dibuat mereka tak lebih dari sepotong roti yang wajib dimakan sebelum anak pergi kesekolah, ku pastikan anak itu akan tetap hidup meski tak mengindahkan potongan roti yang tergelatak manis di atas meja tersebut. Ia akan tetap hidup, sebab aturan begitulah adanya, dan aku lebih memilih kebebasan, sebuah kehidupan lepas yang ditawarkan alam seperti ini, seperti kamu, dan seperti kehidupan kita berdua.
Ibuku pernah bilang, “kehidupan damai yang kita dapatkan tergantung pada sebuah ruang yang ada di dadamu,” aku tak begitu mengerti betul apa maksud perkataan ibu waktu itu, yang ku tahu, sebuah rasa aneh seringkali muncul dari bagian terdalam dada ini, mungkin itu muncul dari ruang yang dikatakan tadi, tapi aku tidak yakin, karena rasanya semua kehidupanku tengah dikendali penuh oleh otak yang menempel dalam kepala. Hingga pada suatu masa, aku sendiri ingin memecahkan kepala ini karena ada begitu banyak hal yang menjejal tanpa permisi.
Sekarang kehidupanku mulai
terasa hidup, karena aku menemukan jiwa yang tertinggal di pohon ini, sebuah
ruang yang memantulkan bayangan diri seperti cermin, aku seperti melihat masa
lalu sekaligus masa depanku disini, bergelayut pada ranting-ranting yang
menguraikan sejarah kesetiaan, aku menggantungkan sekarung beban diatasnya, ia
tetap kuat tak tergoyah, karena ia punya akar yang ditempa sangat keras,
mejadikan ia bertumbuh dan semakin berkembang, menancap tajam ke dasar tanah
menjadikan ia semakin kuat diterpa topan.
Ada sejuta alasan mengapa aku
mengagumimu, hal mendasar adalah karena engkaulah yang meghidupkan kembali jiwaku yang tengah meredup. Sekarang aku punya
nyawa kembali, semata karena apa yang tertutup telah terkuak disini, aku
menyadari dan aku menjadi mengerti.
Hanya karena
sebuah pohon, Aku kembali menemukan kehidupanku yang telah terkubur belasan
tahun.
Aku menemuimu
disini, di pohon ini..



Komentar
Posting Komentar