NHW#3 Our Home Team
NHW#3 📚MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH 📚
Setiap manusia telah dibekali peran spesifik di bumi ini, namun pertanyaannya adalah, bagaimana cara mengetahui “pesan” atau “bekal” yang telah Allah berikan tersebut. Ini akan menjadi sebuah perjalanan panjang, dan bisa jadi sebuah proses sampai akhir hayat dalam menemukannya. Tapi semoga, dengan ikhtiar yang diseriuskan, kita bisa sesegera mungkin menemukan misi tersebut agar bisa berjalan sesuai track, tanpa nyasar dan menyisakan banyak waktu yang terbuang.
Setelah menikah, misi dari masing-masing kita disatukan, sehingga akan munculah sebuah “misi keluarga”, apa gerangan Allah menjodohkan saya dengan seseorang yang sekarang sedang berada disamping saya ini. Tidak mungkin jika tidak ada maksud, jadi pencarian ini bakalan semakin seru, karena kita tidak sendiri, tapi bersama-sama membentuk sebuah A Home Team, agar misi ini bisa ternunaikan sesuai dengan kehendak-Nya dan terbangunlan sebuah peradaban yang kokoh dari rumah mungil kami.
Langkah awal menemukan misi ini adalah dengan (kembali) merenung, mencoba mengulur benang dari awal lagi, mengingat-ngingat mengapa dulu, di tahun 2013, beberapa Jam setelah sidang skripsi, saya mau menyatakan “Ya” , itu semata karena saya tak mau masuk neraka gara-gara menolak orang soleh daaaan karena sependek saya menenalnya, saya menemukan sebuah semangat yang tak pernah surut untuk belajar dan bertumbuh, suami pun selalu menjadi yang terdepan dalam menolong orang. Apalagi soal kedewasaan, saya yang masih sering egois ini merasa sekali terayomi oleh kedewasaannya yang jauh lebih matang dan stabil. Ini menjadi alasan kuat, bahwa ia “layak” menjadi ayah dari anak-anak. Sebagai momen penguatan misi ini, saya membuat projek kencan romantis didalam rumah dengan memberikan ia sebuah surat cinta dan suasana candle Light dinner yang tak kalah berkesan dengan resto-resto mewah, alhamdulillah berhasil membuat suami terharu, Hehe.
Kami membicarakan potensi masing-masing, titik temunya adalah bahwa kami sama-sama menyukai dunia sosial, saya sendiri pernah selama 8 tahun menjadi kaka mentor untuk anak-anak yatim dan duafa di sebuah lembaga zakat, sedang suami senang memberi beasiswa untuk anak-anak yang semangat belajar namun terkendala biaya kuliah, berangkat dari sanalah kami bertekad untuk menjadi sebuah keluarga yang dekat dan ringan mengulur tangan untuk saudara yang membutuhkan.
Qodarullah, kami pun Allah takdirkan untuk berada di sebuah daerah perkampungan yang sebagian masyarakatnya masih serba kekurangan, anak-anak putus sekolah, karena orangtuanya yang kadang kerja kadang diam dirumah karena tak ada pekerjaan.
Melihat mereka, kami semakin semangat untuk melaju, mengejar semua mimpi, agar biSa menolong orang-orang sekitar keluar dari masalahnya.
Langkah kami dimulai dari, suami semakin fokus terhadap karirnya, saya pun semakin giat dalam berbisnis yang base nya dari rumah, tentu itu dilakukan seiring dengan prioritas utama kami membangun kekuatan atau peradaban dari rumah terlebih dahulu.
Nah, Kekuatan home team juga berasal dari kehebatan anak-anak. Alhamdulillah, keluarga kecil kami telah lengkap dengan hadirnya seorang anak, makin terasa energinya, zaga kini berusia 2 tahun, sudah mulai kritis, hobi mengeksplor banyak hal, minggu kemarin senang kuda, dan minggu ini senang main bola, berenang, ataupun main bulu tangkis, semoga kami bisa jadi jembatan yang kokoh atas keingintahuannya yang besar, sehingga suatu saat anak-anak kami bisa lebih cepat menangkap misinya masing-masing dan berkolaborasi menjadi sebuah kekuatan yang hebat. Aamiin.
Bandung, 05 november 2016
Setiap manusia telah dibekali peran spesifik di bumi ini, namun pertanyaannya adalah, bagaimana cara mengetahui “pesan” atau “bekal” yang telah Allah berikan tersebut. Ini akan menjadi sebuah perjalanan panjang, dan bisa jadi sebuah proses sampai akhir hayat dalam menemukannya. Tapi semoga, dengan ikhtiar yang diseriuskan, kita bisa sesegera mungkin menemukan misi tersebut agar bisa berjalan sesuai track, tanpa nyasar dan menyisakan banyak waktu yang terbuang.
Setelah menikah, misi dari masing-masing kita disatukan, sehingga akan munculah sebuah “misi keluarga”, apa gerangan Allah menjodohkan saya dengan seseorang yang sekarang sedang berada disamping saya ini. Tidak mungkin jika tidak ada maksud, jadi pencarian ini bakalan semakin seru, karena kita tidak sendiri, tapi bersama-sama membentuk sebuah A Home Team, agar misi ini bisa ternunaikan sesuai dengan kehendak-Nya dan terbangunlan sebuah peradaban yang kokoh dari rumah mungil kami.
Langkah awal menemukan misi ini adalah dengan (kembali) merenung, mencoba mengulur benang dari awal lagi, mengingat-ngingat mengapa dulu, di tahun 2013, beberapa Jam setelah sidang skripsi, saya mau menyatakan “Ya” , itu semata karena saya tak mau masuk neraka gara-gara menolak orang soleh daaaan karena sependek saya menenalnya, saya menemukan sebuah semangat yang tak pernah surut untuk belajar dan bertumbuh, suami pun selalu menjadi yang terdepan dalam menolong orang. Apalagi soal kedewasaan, saya yang masih sering egois ini merasa sekali terayomi oleh kedewasaannya yang jauh lebih matang dan stabil. Ini menjadi alasan kuat, bahwa ia “layak” menjadi ayah dari anak-anak. Sebagai momen penguatan misi ini, saya membuat projek kencan romantis didalam rumah dengan memberikan ia sebuah surat cinta dan suasana candle Light dinner yang tak kalah berkesan dengan resto-resto mewah, alhamdulillah berhasil membuat suami terharu, Hehe.
Kami membicarakan potensi masing-masing, titik temunya adalah bahwa kami sama-sama menyukai dunia sosial, saya sendiri pernah selama 8 tahun menjadi kaka mentor untuk anak-anak yatim dan duafa di sebuah lembaga zakat, sedang suami senang memberi beasiswa untuk anak-anak yang semangat belajar namun terkendala biaya kuliah, berangkat dari sanalah kami bertekad untuk menjadi sebuah keluarga yang dekat dan ringan mengulur tangan untuk saudara yang membutuhkan.
Qodarullah, kami pun Allah takdirkan untuk berada di sebuah daerah perkampungan yang sebagian masyarakatnya masih serba kekurangan, anak-anak putus sekolah, karena orangtuanya yang kadang kerja kadang diam dirumah karena tak ada pekerjaan.
Melihat mereka, kami semakin semangat untuk melaju, mengejar semua mimpi, agar biSa menolong orang-orang sekitar keluar dari masalahnya.
Langkah kami dimulai dari, suami semakin fokus terhadap karirnya, saya pun semakin giat dalam berbisnis yang base nya dari rumah, tentu itu dilakukan seiring dengan prioritas utama kami membangun kekuatan atau peradaban dari rumah terlebih dahulu.
Nah, Kekuatan home team juga berasal dari kehebatan anak-anak. Alhamdulillah, keluarga kecil kami telah lengkap dengan hadirnya seorang anak, makin terasa energinya, zaga kini berusia 2 tahun, sudah mulai kritis, hobi mengeksplor banyak hal, minggu kemarin senang kuda, dan minggu ini senang main bola, berenang, ataupun main bulu tangkis, semoga kami bisa jadi jembatan yang kokoh atas keingintahuannya yang besar, sehingga suatu saat anak-anak kami bisa lebih cepat menangkap misinya masing-masing dan berkolaborasi menjadi sebuah kekuatan yang hebat. Aamiin.
Bandung, 05 november 2016
Komentar
Posting Komentar