Day#7 Pentingnya Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak

Day#7 Prsentasi kelompok7

Tidak terasa sudah menginjak ke hari yang ke-7 yaa, diskusi tentang fitrah seksualitas anak ini tidak ada habisnya, selalu ada hal yang menarik untuk dibahas, Mba Nurul dan Mba Esther memulainya dengan sebuah video berikut ini:


yang menjadi bahan utama dalam diskusi malam ini yaitu mengenai peranan ayah dalam menumbukhan fitrah seksualitas anak, Fenomena sekarang ayah tdk bisa berperan optimal dalam pengasuhan anak. Padahal jika melihat isi Al -Quran tugas ini ada dipundak ayah. Namun jika memiliki suami spt itu,  jangan bersedih hati ya bun.Trus nyesel nikah sama pak Suami 😂
 Pengalaman dari para senior yg sudah menikah puluhan tahun.  Mereka para istri yang bersabar,  membantu menghadirkan peran ayah. Walau fisiknya tidak ada. Bahkan yg fisiknya ada Seperti halnya kisah Nabi Ismail yg dibesarkan tanpa kehadiran fisik Nabi Ibrahim.  Tapi Ibu Siti Hajar mampu membersamai putranya sehingga menjadi pribadi yg luar biasa.

 Suami istri bagaikan 1 tubuh, tak penting siapa duluan yang memulai kebaikan yang terpenting adalah masing2 diantara nya atau salah satunya ttp konsisten dalam kebaikan, insyaAllah keberkahan akan menyelimuti  sehingga semua ambil perannya. Dan yang terpenting adalah lantunan doa.
InsyaAllah kl di grup sini mah, suami istri sejalan dan seirama
Allahumma aamiin

Selain itu, munculah sebuah pertanyaan : "Mengenai peran ayah yg sbg raja tega, apakah tdk akan menjadikan anak dekat dgn ayahnya mba? Bagaimana caranya ayah agar tetap bisa dekat/mengikat hati anaknya  walaupun sang ayah merupakan sang raja tega?"
Jawaban Mba Nurul dan Mba Esther : Kalau saya melihat dari pernyataan ini, Raja Tega di sini yg  berarti lebih ke tegas bukan galak. Tujuannya ingin mendidik anak supaya menjadi mandiri,  tanggung jawab. Namanya anak2 ya kadang banyak negosiasinya,  ngeyelnya.  Sikap ayah cocok banget untuk menghadapi sikap anak spt itu. Ayah sebagai raja tega menurut ust harry sentosa berlaku sejak usia 10 tahun. Pada usia ini anak2 memang harus dikenalkan dengan tanggungjawab sosial, kewajiban sholat dll. Dan insyaAllah kedekatan itu akan tetap terjalin dengan bantuan ibu sebagai 'pembasuh luka' dan tempat bernaung dikala sang anak gundah gulana (maafkan kealayan saya).
Dan kuncinya lagi ada dimasa2 sebelum usia tsb. Kalau dilihat ditahapan usia pendidikan fitrah seksualitas maka pada usia 3-6 tahun anak2 harus dekat dengan ayahnya. Maka disini sang ayah harus memaksimalkan perannya untuk dekat dengan anak2nya. Caranya bisa dengan bermain bersama. Rekreasi bersama dll.





 Ayah hebat adalah ayah yang dirindukan oleh anaknya. Anak merindukan ayahnya bukan hanya di saat jauh, namun juga ingin selalu nempel di saat dekat dengan sang ayah.

Sebagaimana kisah Nabi Yusuf dengan ayahnya Nabi Ya’kub, dalam surat Yusuf ayat 4 :

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ

“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku“.

Ada panggilan khusus dari Yusuf kepada ayahnya dengan memakai kata يَا أَبَتِ (yaa abati).
Panggilan Yusuf kepada ayahnya dengan memakai kata ‘ya abati’ seolah-olah orang yang dipanggil (Ya’kub) berada di tempat yang jauh padahal dia ada di depannya. Orang yang ada di depannya dibuat seakan-akan berada di tempat yang jauh yang dinantikan kehadirannya, karena yang dimaksudkan adalah menghadirkan pikiran dan hatinya kepada ayahnya.
(hiwarul abaa ma’al abna, sarah bin halil al muthoyri).

Ayah yang hebat dengan kesibukannya tetap mampu menggaransi bahwa anaknya akan selalu rindu terhadapnya.
Ibu juga harus membanty agar anak selalu rindu dengan ayahnya.

Inilah perbedaan islamic parenting dengan parenting barat. Apabila di parenting barat ayah harus ada dalam pengasuhan, ayah harus senantiasa hadir. Namun di islamic parenting ayah bisa saja tidak hadir secara fisik, bahkan berjauhan. Sebagaimana kisah Nabi Ibrahim dengan Ismail, Ya’kub dan Yusuf, Umar bin Abdul Aziz dengan ayahnya. Ayah tak selalu hadir namun kehadirannya selalu dirasakan dihati anak. Nah, inilah yang menjadi PR ayah hari ini bagaimana agar ia dapat tetap hadir di hati anak meskipun fisik tidak bersama.


Subhanallah, dapat banyak ilmu malam ini, terimakasih untuk mba Esther dan Mba Nurul :)

#Referensi penulisan di blog : Presentasi kelompok 7 di kelas bunda sayang iip depok
#IIPdepok
#level11
#fitrahseksualitasanak
#harike7

Komentar

Postingan Populer