Kepada Ibu
Dimalam yang semakin larut, gurat bibirmu membungkus cemas Bu,,
Ada kelebat-kelebat amanah yang kau tempel dipundakku,
Kiranya kini, mataku yang tak lagi sanggup terpejam,
Ingat esok lusa, apakah terbuka jalan atau malah merangkak menyusur jalan yang hanya setapak..
Bu, Aku menghormatimu seperti gunung-gunung megah yang tertunduk.
Namun, jiwaku layaknya pasir yang mudah terkoyah hanya dalam tekanan satu genggam..
Tatapan sayumu menjadikan bayang yang terus berputar dalam kilatan sejuta cahaya..
Aku takut, tanganku tak cukup waktu untuk mendekapmu dalam kebahagiaan..
Seperti hari-hari sebelumnya Bu,,
Selalu Ibu yang berkorban, meski dengan raga yang sudah ringkih menyemai kerasnya kehidupan..
Namun senyummu tak pernah pudar, Kau bilang ini suatu kewajiban..
Lalu apa kabar dengan aku Bu,,
Menjadi pewaris yang mengalirkan darahmu adalah suatu kehormatan besar,,
Kadang diri yang compang camping ini bermunajat karena tak layak..
Tuhan berkata lain, akulah yang diberikan amanah untuk menyematkan tahta terbaik di padang ma'syar nanti,
Semoga Bu, atas waktu yang penuh dengan kekhawatiran ini,
Aku bisa menyematkan tahta terbaik untukmu..
Untuk bumi dan langitmu..
29 Mei 2013
Sonia S Sun*


Komentar
Posting Komentar