Sekotak Tinta Warna.


“Ini hari spesialmu…?” Aku tersenyum datar, ada banyak deretan angka dimuka bumi ini,
Aku maklumi, jika kespesialanku mungkin tak semelekat apa yang menjadi penting bagimu.

“Aku tak bawa kalender” jawabku sekenanya, Ah, kapan kamu peka dengan yang kumaksud, melulu senyum simpul yang diperlihatkan. Lama-lama aku bosan, seperti aromanis yang langsung menghilang dalam lumatan.
semburat cahaya nampak bersinar diatas 1000 kaki, cukup menghangatkan setelah hujan mengguyur bumi, setidaknya bisa membungkus rasa “beku” bagi kita, butuh cahaya yang lebih panas hanya untuk sekedar melumerkan suasana.

“Kesana yuk” Ajakmu tiba-tiba dengan tangan mengarah ke suatu tempat, jelas tak ada tempat special disana, aku tahu betul, disana hanya ada pohon-pohon tinggi menjulang dan setapak jalan kotor yang belepotan rumput kering, 
oh ya, ada satu hal yang menarik, ada ratusan bunga edelweiss disana.

“Kemana?” aku mengerling pura-pura tidak tahu, meski sekarang tak ada minat, tapi aku bukan kamu, setidaknya aku masih bisa sedikit peka.

“Ketempat yang berpenghuni mahluk abadi, siapa tahu kita ketularan abadi, hhe” lesung pipit dipipimu terlihat lagi,  kamu tertawa renyah, kaos oblong putih yang kamu kenakan tertibas angin, dengan rambut yang ikut tertiup, suasana seperti itulah yang selalu kurindukan darimu, aku selalu kalah, kekesalanku bisa menguap seketika hanya dengan satu dua hal sepele dari tingkahmu, termasuk untuk sore ini, baiklah, kuturuti maumu, ini sudah lain perkara, siapa yang seharusnya membahagiakan dan dibahagiakan di hari special telah terlupakan.

Namun kuyakini, akan terjadi sesuatu yang indah di senja ini, tepat ditempat yang berpenghuni mahluk2 abadi, dilorong sebuah gunung yang menjulang tinggi bak raja yang bertahta, semua Nampak megah meski hanya dengan balutan rumput-rumput liar. Kita menapaki jalan setapak basah yang ditinggal hujan siang tadi, bunga-bunga Nampak lebih segar, pemandangan alami yang terlindungi, aku bangga menjadi bagian di tempat ini, setidaknya hariku bebas dari hingar bingar kota yang menurutmu lebih keren itu. 

“Sampai kapan?”, tiba-tiba lagi, kita tengah berjalan, namun pertanyaan-pertanyaan tak jelas selalu kau ajukan, aku menoleh sebentar, yang ditoleh hanya memalingkan muka. 

“Maksudmu? sampai kapan apanya?” sontak dirimu pun mengangkat bahu, dan meneruskan perjalanan. Lagi-lagi menguji kesabaran.

Akhirnya kita sampai, jam menunjukkan pukul setengah enam sore, hari semakin larut, matahari tengah bersiap untuk memudar, suasana di kaki gunung ini menakjubkan, lukisan Tuhan yang tak bisa sempurna digambarkan manusia, aku berdiri didekat tumbuhnya puluhan edelwais, sedang kamu lebih memlih untuk selenjaran di dekat tumpukan tanah kering dengan semak belukar. Semilir angin membuat bulu kudukku berdiri, ku hirup napas panjang, mencoba mengatur kembali sesak karena cape. Namun, lelahku terbayarkan oleh bunga-bunga ini, ku petik beberapa, lalu ku genggam sekenanya,




Ini tempat special untuk mereka yang sedang memadu kasih, mengikat banyak janji-janji untuk masa depan, berbeda dengan kita, kita datang kesini tanpa tujuan, untuk apa? Paling hanya untuk sekedar melepaskan mumet setelah kerja seharian. Tak ada sisi-sisi romantis selama kita hidup bersama. Kamu hanya terbiasa bicara sekenanya, sedang aku lebih memilih untuk berteman buku diary, jadinya ya seperti ini, masih Nampak kaku, tidak akan ada pembicaraan tanpa ada yang memulai.

“Aku punya sesuatu untukmu, kuharap kamu suka..” Tring, ini tumben, dia yang memulai, dan kalimat pertamanya membawa sinyal yang bagus.

“Sebagai hadiah ulang tahunku??” Aku mengulum senyum, menatapmu malu-malu, kiranya sebuah cincin baru akan melingkari jari manisku. Atau mungkin gaun baru, tapi tak mungkin, ransel yang dibawanya cukup kecil untuk memuat sebuah gaun wanita yang banyak aksesoris, peralatan rumah tangga apa lagi,,jari-jariku tengah bersiap, ku yakin, pasti ini sebuah cincin cinta.

“Iya, aku memang tak mengingat betul kapan hari spesialmu, karena bagiku, semua hari adalah special, ku kira pendapat kita sama, namun sepertinya berbeda. Tak apa, aku ingin lebih memahami apa yang menjadi bahagiamu, termasuk untuk hari ini.”

Ada yang berbeda, ku alihkan sepenuhnya untuk memperhatikan satiap kata yang terucap, aku mencuri-curi perhatian, kadar manis di wajahnya tak pernah berkurang. Laki-laki ini menjadi bagian terpenting dalam hidupku,

“Lalu?” aku menunggu deretan kata berikutnya. Meski aku terharu, namun Gengsiku terlalu besar untuk langsung meng”iya”kannya, ini belum klimaks, hadiah terindahnya belum diberikan kepadaku.

“Ini..” kamu menyodorkan sekotak coklat untukku,

“Dan ini..” sodoranmu yang kedua sedikit aneh, suara jangkrik mulai terdengar, alunan desah angin makin terasa, semua berpadu dengan tatapanmu yang ntahlah apa artinya itu. Ini seperti kotak coklat, namun jelas sama sekali tak ada gambar coklat disana. Perlahan kuraih sodoran kedua, kurasa kotak ini terlalu besar untuk ukuran sebuah cincin, maka sepertinya dugaanku salah. Aku membuka pita merah yang menghiasinya,

“Ini apa?”

“Buka saja..” jawabnya misterius..

“Sebuah pulpen dengan banyak tinta, maksudnya?” dugaanku meleset parah, semuanya tak kumengerti. Ada apa dengan tinta warna warni ini.

“Itu yang istimewa Indah, sengaja kubelikan khusus untukmu, kamu suka?” kupaksakan mengangguk meski aku tak sepenuhnya mengerti. Senyummu terukir kembali, aku suka, lebih kusukai dibanding tinta-tinta ini.

“Semua harapan dan mimpimu tuangkanlah melalui tinta-tinta itu,  jika hanya cincin atau apapun itu, itu semua tidak akan mewakili apa yang sebenarnya menjadi inginmu. Aku tak cukup memahami, maka tulislah semuanya, maka semua akan terlukis lebih jelas, setelah selsai berikan lagi kepadaku. Aku yakin, semua mimpimu adalah mimpiku. Kita akan wujudkan sama-sama” 
Itu kata-kata terindah yang pernah aku dengar langsung darimu, inginku Cuma satu, kamu menjadi Imam terbaik untukku.

Semesta ini menjadi saksi, setangkai bunga edelweiss berpindah tangan,

“Ketika di perjalanan tadi, kamu bertanya sampai kapan? Sampai kapan apa maksudnya?”

“Aku ingin bertanya, sampai kapan kita akan bersama? aku jawab sendiri, sampai maut memisahkan kita” Aku tersenyum bahagia..

“Semoga kasih kita abadi layaknya bunga ini”




29 Mei 2013

Sonia S Sun*


Komentar

Postingan Populer