Keberkahan Rizki
Hari ini dapat kiriman video dari suami, tentang rizki.
Dilihat dari judulnya aja udah tersirat makna yang sangat dalam.
"Apakah rizki tergantung pada kerja keras atau karena ketaqwaan kita?"
Seringkali mindset kita terjebak dengan kalimat ini "hasil berbanding lurus dengan kerja keras" iya, tapi bukan itu yang kita cari sebenarnya. Tidak melulu to' tentang besarannya hasil, tapi lebih dari itu, yaitu keberkahan. Barokah, karena percuma harta banyak tapi tidak berkah.
Itu pula, yang selalu ditekankan suami, berapapun besarannya, yang penting berkah, diberi kesehatan, diberi kelapangan hati, diberi kebahagiaan hakiki. MasyaAllah, seringkali sebagai istri merasa "was-was" ketika melihat kebutuhan misalnya tak sebanding dengan pemasukan yang ada, jelas kufur nikmat, padahal rizki sesungguhnya adalah kita masih bisa makan hari ini, dengan nikmat dan penuh syukur. Tak perlu memikirkan esok lusa yang belum terjadi, karena Allah pasti akan mencukupi pada akhirnya.
Lalu makna kerja keras, ia adalah kondisi ikhtiar yang maksimal, tidak berlebihan membanting tulang, lembur sampai jam 10 malam, ditambah juga pada hari sabtu minggu, melewatkan momen mencari ilmu akhirat, melewatkan momen kebersamaan dengan keluarga. Sibuk!! Yang dicari hanyalah bongkahan kertas bernilai, tapi sebetulnya belum tentu bernilai kalau berkah itu hilang.
Allah mencontohkan makna berkah ini pada seekor burung yang pergi dipagi hari lalu pulang sore hari dalam keadaan perut kenyang serta membawa makanan untuk anak-anaknya. Hanya sampai sore hari, dan dijamin perut kenyang. Itulah bukti dari Bekerja yang lillah karena Allah, pasti membawa keberkahan.
Jadi rizki tak tergantung dari kerja keras, tapi ia tergantung pada ketaqwaan kita kepada Allah, bagaimana kita pandai bersyukur atas berapapun dan dalam bentuk apapun rizki yang kita dapatkan.
Terkesima banget dengan isi ceramah di video itu, ini jadi pengingat diri, untuk terus belajar sabar dan bersyukur. Alhamdulillah.
Hari ke-35 ODOPfor99days
Dilihat dari judulnya aja udah tersirat makna yang sangat dalam.
"Apakah rizki tergantung pada kerja keras atau karena ketaqwaan kita?"
Seringkali mindset kita terjebak dengan kalimat ini "hasil berbanding lurus dengan kerja keras" iya, tapi bukan itu yang kita cari sebenarnya. Tidak melulu to' tentang besarannya hasil, tapi lebih dari itu, yaitu keberkahan. Barokah, karena percuma harta banyak tapi tidak berkah.
Itu pula, yang selalu ditekankan suami, berapapun besarannya, yang penting berkah, diberi kesehatan, diberi kelapangan hati, diberi kebahagiaan hakiki. MasyaAllah, seringkali sebagai istri merasa "was-was" ketika melihat kebutuhan misalnya tak sebanding dengan pemasukan yang ada, jelas kufur nikmat, padahal rizki sesungguhnya adalah kita masih bisa makan hari ini, dengan nikmat dan penuh syukur. Tak perlu memikirkan esok lusa yang belum terjadi, karena Allah pasti akan mencukupi pada akhirnya.
Lalu makna kerja keras, ia adalah kondisi ikhtiar yang maksimal, tidak berlebihan membanting tulang, lembur sampai jam 10 malam, ditambah juga pada hari sabtu minggu, melewatkan momen mencari ilmu akhirat, melewatkan momen kebersamaan dengan keluarga. Sibuk!! Yang dicari hanyalah bongkahan kertas bernilai, tapi sebetulnya belum tentu bernilai kalau berkah itu hilang.
Allah mencontohkan makna berkah ini pada seekor burung yang pergi dipagi hari lalu pulang sore hari dalam keadaan perut kenyang serta membawa makanan untuk anak-anaknya. Hanya sampai sore hari, dan dijamin perut kenyang. Itulah bukti dari Bekerja yang lillah karena Allah, pasti membawa keberkahan.
Jadi rizki tak tergantung dari kerja keras, tapi ia tergantung pada ketaqwaan kita kepada Allah, bagaimana kita pandai bersyukur atas berapapun dan dalam bentuk apapun rizki yang kita dapatkan.
Terkesima banget dengan isi ceramah di video itu, ini jadi pengingat diri, untuk terus belajar sabar dan bersyukur. Alhamdulillah.
Hari ke-35 ODOPfor99days

Komentar
Posting Komentar