Konsistensi
Salah satu kunci dari keberhasilan adalah konsistensi, sesuatu yang sudah kita tahu sejak lama tapi sulit di praktekan. Pada kenyataannya, konsistensi ini menjadi PR yang lumayan berat, pasalnya godaan selalu ada, terutama rasa males yang aduhaaai, piawai sekali membuat kita betah dalam kenyamanan berleha-leha.
Biasanya faktor pemicu rusaknya konsistensi adalah lelah dan bosan, kalau udah terjebak pada dua hal ini pasti rasa males tadi yang akan merajai diri, kenapa saya membahas konsistensi, karena belakangan saya sudah mulai tidak konsisten dalam menulis, sedang target adalah nulis selama 99 hari.
Minggu ini suami dateng, setelah satu bulan gak ketemu, jadi pastilah perhatian tercurah untuknya. Ciee..ditambah kedatangan juga mertua dari jawa plus ada teman dekat dan sodara yang nikahan. Jadwal nulis di malam hari jadi tersendat karena aktifitas quality time dan setelahnya langsung tidur karena cape. Alhasil ga nulis, sempet beberapa hari kemudian sampe lupa banget kalau lagi ngejalanin program ODOP. Hufth.
Malem ini, ngobrol sama suami via telpon, tiba-tiba membahas konsistensi. Menurutnya konsistensi tidak hanya menjalani apa yang sudah ditargetkan, semisal olahraha wajib setiap hari selama 30 menit, tetapi juga kondisi dimana kita bisa memotivasi ketika sudah mulai keluar track atau males.
Wajar jika selama beberapa waktu butuh istirahat untuk melawan kebosanan, tapi setelahnya harus bisa semangat lagi agar apa yang sudah di targetkan di awal bisa tetap di capai pada akhirnya, meskipun ditengah perjalanan agak tersendat. Orang konsisten adalah mereka yang bisa menyemangati diri sendiri dikala godaan itu datang, karena proses bangkit ini yang menjadi "mahal" dalam sebuah kesuksesan seseorang.
Saya termenung mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan suami beberapa waktu lalu. Singkat tapi nusuk. Hhe
Yess!! Bangkit, dan bergerak. Maka konsistensi akan kita dapatkan, karena ia salah satu jalan mencapai tujuan. Maju sampai finish, meskipun ditengah perjalanan harus rehat sejenak. Belajar menyelesaikan apa yang sudah dimulai.
Hari ke-36 yang harusnya sudah 41.
ODOPfor99days
Biasanya faktor pemicu rusaknya konsistensi adalah lelah dan bosan, kalau udah terjebak pada dua hal ini pasti rasa males tadi yang akan merajai diri, kenapa saya membahas konsistensi, karena belakangan saya sudah mulai tidak konsisten dalam menulis, sedang target adalah nulis selama 99 hari.
Minggu ini suami dateng, setelah satu bulan gak ketemu, jadi pastilah perhatian tercurah untuknya. Ciee..ditambah kedatangan juga mertua dari jawa plus ada teman dekat dan sodara yang nikahan. Jadwal nulis di malam hari jadi tersendat karena aktifitas quality time dan setelahnya langsung tidur karena cape. Alhasil ga nulis, sempet beberapa hari kemudian sampe lupa banget kalau lagi ngejalanin program ODOP. Hufth.
Malem ini, ngobrol sama suami via telpon, tiba-tiba membahas konsistensi. Menurutnya konsistensi tidak hanya menjalani apa yang sudah ditargetkan, semisal olahraha wajib setiap hari selama 30 menit, tetapi juga kondisi dimana kita bisa memotivasi ketika sudah mulai keluar track atau males.
Wajar jika selama beberapa waktu butuh istirahat untuk melawan kebosanan, tapi setelahnya harus bisa semangat lagi agar apa yang sudah di targetkan di awal bisa tetap di capai pada akhirnya, meskipun ditengah perjalanan agak tersendat. Orang konsisten adalah mereka yang bisa menyemangati diri sendiri dikala godaan itu datang, karena proses bangkit ini yang menjadi "mahal" dalam sebuah kesuksesan seseorang.
Saya termenung mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan suami beberapa waktu lalu. Singkat tapi nusuk. Hhe
Yess!! Bangkit, dan bergerak. Maka konsistensi akan kita dapatkan, karena ia salah satu jalan mencapai tujuan. Maju sampai finish, meskipun ditengah perjalanan harus rehat sejenak. Belajar menyelesaikan apa yang sudah dimulai.
Hari ke-36 yang harusnya sudah 41.
ODOPfor99days
Komentar
Posting Komentar