Reuni in love part 2
Disini kita bertemu.
Untuk sesuatu yang telah engkau rencanakan serta Tuhan yang meng"iya"kan.
Namun tak ada satu pun kata yang aku dengar.
Atau sekedar bisikan yang dihembuskan.
Aku tahu, atas perasaanmu yang berdesir.
Juga perasaanku, yang tiba-tiba dingin tersiram air.
Pertemuan ini di sponsori total oleh ibuku, serta dibantu beberapa teman. Kami sudah berada di dunia masing-masing, namun kebersamaan masih dirasa persis ketika kami satu organisasi dulu, dan sebelumnya pun kami berkonvoi menyempatkan hadir dalam pernikahan seorang kawan akhwat. Doa mengalir untuknya, sempat terbesir doa agar aku bisa segera menyusul sepertinya. "amiin" batinku lagi. :D
Satu persatu para alumni ini berdatangan, rata-rata orang yang sudah aku kenal, bukan sosok asing, hingga tak perlu basa basi menanyakan nama. Hanya ada beberapa adik tingkat yang tak aku kenal sebelumnya karena beda generasi. Ibuku seketika mendadak jadi pengantin karena banyak yang mengantri untuk bersalaman.
Dalam waktu singkat rumah mungil itu dijejali banyak orang, semua saling bertegur sapa, banyak di antaranya yang pecah atas luapan rindu yang tak tertahan. Sudah naluriah bahwa kami akan berkumpul dengan angkatannya masing-masing, saling mengurai rasa kangen yang telah lama tidak bertemu.
tibalah pada serangkaian acara yang di pimpin langsung oleh ketua forum. Disaat sedang asyik menyimak materi yang disampaikan, seseorang mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Materi terhenti dan serentak menjawab salam dengan pandangan yang di arahkan padanya. Ia masuk dan mengambil posisi paling depan.
Beberapa saat kemudian, kami break sebentar, aku izin kebelakang untuk membantu ibuku menyiapkan makan siang, tiba-tiba ada yang datang dan khidmat memberikan salam pada ibu, ia terdiam, katanya sosok ibu sudah tak asing. Rupanya ia adalah teman kakaku, satu angkatan, satu kelas. Dunia memang selebar daun kelor, Aku hanya melempar senyum dan berbasa-basi ringan dengannya. Ku pikir dia telah menikah, sama seperti kakaku, tapi ternyata belum, berita itu aku dapatkan dari teman-temanku. Oh gitu...hanya itu responku, dalam hati bertanya-tanya kenapa bisa belum menikah. Sudahlah, lupakan..
Acara sesi kedua di mulai, saling brainstorming tentang bagaimana selanjutnya peranan forum ini kedepan. Kali ini laki-laki dan perempuan dipisahkan. Aku larut dalam sharing, sekaligus nostalgia mengingat perjuangan dahulu ketika masih aktif di organisasi. Ikhwan dan akhwat hanya terpisah ooeh dinding, tak sengaja aku melihat ke ujung pintu daaan seseorag diam-diam tengah mengamatiku. Seketika ia arahkan pandangannya ke tempat lain. Aku merasa ada yang aneh, tapi pikirku mungkin hanya kebetulan.
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, pertemuan reuni ini diakhiri dengan acara makan-makan bersama. Betapa indahnya silaturahim dalam kebaikan, dan semoga tempat ini diliputi banyak keberkahan. Satu persatu mereka pulang, rumah kembali menjadi sepi...
Namun.. ada satu orang yang tertinggal. Dia yang katanya belum menikah itu. Kenapa belum juga pulang? Mungkin masih ingin bernostalgia dengan ibu tentang kakak, pikirku lagi. Sudah jam 7 malam ia masih asik mengobrol dengan ibu dan bapak. Aku pamit ke kamarku, karena memang merasa sudah tak punya urusan dengannya. Jam setengah delapan, jam setengah sembilan..masih juga belum pulang. Terdengar sayup-sayup pintanya agar orangtuaku mau menghadiri pernikahannya suatu saat nanti, dan akhirnya ia pulang tepat jam 9 malam.
Setengah jam kemudian, handphone berdering, ada pesan masuk dari kakaku. Aku membukanya asal karena sudah tak tertarik melihat layar hape tengah malam. Saat aku buka, mata yang sudah mengantuk ini tiba-tiba terbuka lebar. Nyaris dengan bola mata yang hampir melompat keluar.
"teman aa ingin mengkhitbah, sudah siap menikah?"
"apaaa?"
aku tak percaya, dadaku berdetak lebih cepat. Segera ku kendalikan diri, kakaku pasti berbohong. Mungkin hanya gurauan saja.
Sepuluh menit kemudian, ibuku mengetuk pintu kamar. Ekspresi wajahnya tak seperti biasa, tangannya mendarat di pundak, persis seperti kejadian di motor kemarin.
"ada apa mah?"
"doa mamah dikabulkan, percaya atau tidak...seseorang tengah melamarmu"
aku terhenyak.
Ya Rabb..
Hari ke-4 ODOP for 99days
Untuk sesuatu yang telah engkau rencanakan serta Tuhan yang meng"iya"kan.
Namun tak ada satu pun kata yang aku dengar.
Atau sekedar bisikan yang dihembuskan.
Aku tahu, atas perasaanmu yang berdesir.
Juga perasaanku, yang tiba-tiba dingin tersiram air.
Pertemuan ini di sponsori total oleh ibuku, serta dibantu beberapa teman. Kami sudah berada di dunia masing-masing, namun kebersamaan masih dirasa persis ketika kami satu organisasi dulu, dan sebelumnya pun kami berkonvoi menyempatkan hadir dalam pernikahan seorang kawan akhwat. Doa mengalir untuknya, sempat terbesir doa agar aku bisa segera menyusul sepertinya. "amiin" batinku lagi. :D
Satu persatu para alumni ini berdatangan, rata-rata orang yang sudah aku kenal, bukan sosok asing, hingga tak perlu basa basi menanyakan nama. Hanya ada beberapa adik tingkat yang tak aku kenal sebelumnya karena beda generasi. Ibuku seketika mendadak jadi pengantin karena banyak yang mengantri untuk bersalaman.
Dalam waktu singkat rumah mungil itu dijejali banyak orang, semua saling bertegur sapa, banyak di antaranya yang pecah atas luapan rindu yang tak tertahan. Sudah naluriah bahwa kami akan berkumpul dengan angkatannya masing-masing, saling mengurai rasa kangen yang telah lama tidak bertemu.
tibalah pada serangkaian acara yang di pimpin langsung oleh ketua forum. Disaat sedang asyik menyimak materi yang disampaikan, seseorang mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Materi terhenti dan serentak menjawab salam dengan pandangan yang di arahkan padanya. Ia masuk dan mengambil posisi paling depan.
Beberapa saat kemudian, kami break sebentar, aku izin kebelakang untuk membantu ibuku menyiapkan makan siang, tiba-tiba ada yang datang dan khidmat memberikan salam pada ibu, ia terdiam, katanya sosok ibu sudah tak asing. Rupanya ia adalah teman kakaku, satu angkatan, satu kelas. Dunia memang selebar daun kelor, Aku hanya melempar senyum dan berbasa-basi ringan dengannya. Ku pikir dia telah menikah, sama seperti kakaku, tapi ternyata belum, berita itu aku dapatkan dari teman-temanku. Oh gitu...hanya itu responku, dalam hati bertanya-tanya kenapa bisa belum menikah. Sudahlah, lupakan..
Acara sesi kedua di mulai, saling brainstorming tentang bagaimana selanjutnya peranan forum ini kedepan. Kali ini laki-laki dan perempuan dipisahkan. Aku larut dalam sharing, sekaligus nostalgia mengingat perjuangan dahulu ketika masih aktif di organisasi. Ikhwan dan akhwat hanya terpisah ooeh dinding, tak sengaja aku melihat ke ujung pintu daaan seseorag diam-diam tengah mengamatiku. Seketika ia arahkan pandangannya ke tempat lain. Aku merasa ada yang aneh, tapi pikirku mungkin hanya kebetulan.
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, pertemuan reuni ini diakhiri dengan acara makan-makan bersama. Betapa indahnya silaturahim dalam kebaikan, dan semoga tempat ini diliputi banyak keberkahan. Satu persatu mereka pulang, rumah kembali menjadi sepi...
Namun.. ada satu orang yang tertinggal. Dia yang katanya belum menikah itu. Kenapa belum juga pulang? Mungkin masih ingin bernostalgia dengan ibu tentang kakak, pikirku lagi. Sudah jam 7 malam ia masih asik mengobrol dengan ibu dan bapak. Aku pamit ke kamarku, karena memang merasa sudah tak punya urusan dengannya. Jam setengah delapan, jam setengah sembilan..masih juga belum pulang. Terdengar sayup-sayup pintanya agar orangtuaku mau menghadiri pernikahannya suatu saat nanti, dan akhirnya ia pulang tepat jam 9 malam.
Setengah jam kemudian, handphone berdering, ada pesan masuk dari kakaku. Aku membukanya asal karena sudah tak tertarik melihat layar hape tengah malam. Saat aku buka, mata yang sudah mengantuk ini tiba-tiba terbuka lebar. Nyaris dengan bola mata yang hampir melompat keluar.
"teman aa ingin mengkhitbah, sudah siap menikah?"
"apaaa?"
aku tak percaya, dadaku berdetak lebih cepat. Segera ku kendalikan diri, kakaku pasti berbohong. Mungkin hanya gurauan saja.
Sepuluh menit kemudian, ibuku mengetuk pintu kamar. Ekspresi wajahnya tak seperti biasa, tangannya mendarat di pundak, persis seperti kejadian di motor kemarin.
"ada apa mah?"
"doa mamah dikabulkan, percaya atau tidak...seseorang tengah melamarmu"
aku terhenyak.
Ya Rabb..
Hari ke-4 ODOP for 99days

Komentar
Posting Komentar