Caesar
Bagi sebagian besar ibu, melahirkan secara sesar adalah hal yang paling dihindari, kecuali bagi mereka yang tidak mau merasakan sakitnya melahirkan normal, bahkan operasi sesar banyak ditempuh selebrity yang telah ditentukan kapan tanggalnya. Sedang aku salah satu yang menghindari betul lahiran sesar. Namun siapa yang bisa menentang takdir Allah, jika Allah menghendaki aku melahirkan secara sesar, darisanalah aku ikhlas, ini yang terbaik untuku juga anaku.
Sehari sebelum operasi aku sudah dirumah sakit didampingi suami dan orangtua, mereka adalah kekuatanku menjalani proses operasi besok. Dulu, jangankan operasi, melihat jarum suntik pun aku enggan. Ini kali pertama terbaring di kasur pasien, memakai pakaian serba hijau, dengan aroma ruangan khas yang hanya bisa jumpai di rumah sakit.
Aku bisa tegar, namun seketika ketegaran itu berubah menjadi kekhawatiran, tak henti ku ajak ngobrol bayi yang ada diperutku untuk sama-sama berjuang esok pagi. Suami dan ibuku selalu menghibur dengan mengatakan bahwa operasi besok akan berjalan lancar dan baik-baik saja. Aku mengamini.
Malam harinya aku berpuasa, sesuai dengan yang diinstruksikan dokter, sejujurnya aku tak bisa tidur, tapi belaian suami membuatku nyaman dan bisa tertidur sejenak. Ketika bangun, tak terasa jam menunjukan pukul 4 subuh, aku bangun lalu menunaikan solat tahajud, ada rasa haru saat itu, ini solat tahajudku yang terakhir dengan bayiku yang pertama didalam perut.
Allah, kuatkan aku melalui proses operasi ini, pertemukan aku dan anaku dalam keadaan yang baik. Aku menangis, betapa nikmatnya ketika kita berada dalam titik ikhlas dan pasrah kepada Allah.
Waktu operasi telah tiba, suster membawaku ke ruangan utama operasi, ibu tak henti-hentinya mengingatkanku untuk selalu berdzikir, suami mengecup keningku,
"berjuang sayang, insyaallah Allah bersama kita, dan semua akan berjalan lancar". Ini seperti adegan-adegan di sinetron yang pernah aku lihat. Kita tidak tau apa yang akan terjadi nanti, aku hanya mampu mengangguk saja.
Masuk ke ruangan operasi adalah sesuatu yang horor bagiku. Suasananya di setting begitu menegangkan dengan lampu-lampu besar di segala penjuru. lebih dari 7 orang berpakaian biru lengkap dengan maskernya telah siap menyambutku, mereka berusaha menghibur, aku hanya tersenyum ala kadarnya. Salah seorang diantaranya mengenalkan diri, katanya beliau dokter anastesi yang akan menyuntikan obat bius di bawah punggung.
Sesaat setelah disuntikan, aku mengalami keram yang begitu luar biasa terurama di daerah kaki dan perut. Ternyata itu biusan lokal, yang terbius memang hanya sebatas perut dan kaki, dan aku masih sadar 100%.
"Siap ya bu, tenang aja,,rileks" dokter obgyn tersenyum, ialah tokoh utama dalam kasus operasi ini.
Beberapa saat kemudian, datang lagi seorang dokter perempuan, ia menyapaku,
"Bu, saya dokter anak ibu, yang telah siap menyambut kelehirannya. Tenang ya buu" Lagi-lagi aku tersenyum, sapaan mereka begitu hangat. Akupun semakin tenang menjalaninya.
Bismillah..
Operasi tengah berlangsung, aku bisa merasakan sibuknya mereka yang tengah mengoperasi namun aku tak merasakan sakit sama sekali, yang terasa hanya keram dan kaku. Di sela-sela operasi para doker dan timnya mencoba membuat celotehan-colotehan lucu agar aku tersenyum. aku tersenyum alakadarnya dan meneruskan dizikir. Ternyata seperti ini rasanya di operasi.
Setelah kurang lebih 30 menit bayiku keluar, dokter anak langsung mengambil alih dan memandikannya. Alhamdulillah ala kuli haal..10 menit kemudian aku bisa melihat bayiku yang lucu luar biasa dalam keadaan sudah bersih dan hangat berbalut selimut. Aku menangis tak sanggup menahan haru, masih dalam keadaan operasi aku mencium anaku untuk pertama kalinya.
Nikmat tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan. Amanah itu telah datang, kini aku betul-betul berpredikat sebagai seorang ibu. Setelah keluar dari ruangan operasi keluargaku menyambut hangat. Mereka tak henti-hentinya memberiku selamat. Suamiku menangis dan memeluku.
Terimakasih ya Allah, untuk sejarah yang telah Engkau goreskan hari ini.
01 oktober 2014
Zaga Shidiq Alfath telah tiba di dunia, semoga ia bisa menjadi panglima Allah yang tak lelah berjuang menegakan kedamaian dan kebenaran.
Hari ke-26 ODOPfor99days
Sehari sebelum operasi aku sudah dirumah sakit didampingi suami dan orangtua, mereka adalah kekuatanku menjalani proses operasi besok. Dulu, jangankan operasi, melihat jarum suntik pun aku enggan. Ini kali pertama terbaring di kasur pasien, memakai pakaian serba hijau, dengan aroma ruangan khas yang hanya bisa jumpai di rumah sakit.
Aku bisa tegar, namun seketika ketegaran itu berubah menjadi kekhawatiran, tak henti ku ajak ngobrol bayi yang ada diperutku untuk sama-sama berjuang esok pagi. Suami dan ibuku selalu menghibur dengan mengatakan bahwa operasi besok akan berjalan lancar dan baik-baik saja. Aku mengamini.
Malam harinya aku berpuasa, sesuai dengan yang diinstruksikan dokter, sejujurnya aku tak bisa tidur, tapi belaian suami membuatku nyaman dan bisa tertidur sejenak. Ketika bangun, tak terasa jam menunjukan pukul 4 subuh, aku bangun lalu menunaikan solat tahajud, ada rasa haru saat itu, ini solat tahajudku yang terakhir dengan bayiku yang pertama didalam perut.
Allah, kuatkan aku melalui proses operasi ini, pertemukan aku dan anaku dalam keadaan yang baik. Aku menangis, betapa nikmatnya ketika kita berada dalam titik ikhlas dan pasrah kepada Allah.
Waktu operasi telah tiba, suster membawaku ke ruangan utama operasi, ibu tak henti-hentinya mengingatkanku untuk selalu berdzikir, suami mengecup keningku,
"berjuang sayang, insyaallah Allah bersama kita, dan semua akan berjalan lancar". Ini seperti adegan-adegan di sinetron yang pernah aku lihat. Kita tidak tau apa yang akan terjadi nanti, aku hanya mampu mengangguk saja.
Masuk ke ruangan operasi adalah sesuatu yang horor bagiku. Suasananya di setting begitu menegangkan dengan lampu-lampu besar di segala penjuru. lebih dari 7 orang berpakaian biru lengkap dengan maskernya telah siap menyambutku, mereka berusaha menghibur, aku hanya tersenyum ala kadarnya. Salah seorang diantaranya mengenalkan diri, katanya beliau dokter anastesi yang akan menyuntikan obat bius di bawah punggung.
Sesaat setelah disuntikan, aku mengalami keram yang begitu luar biasa terurama di daerah kaki dan perut. Ternyata itu biusan lokal, yang terbius memang hanya sebatas perut dan kaki, dan aku masih sadar 100%.
"Siap ya bu, tenang aja,,rileks" dokter obgyn tersenyum, ialah tokoh utama dalam kasus operasi ini.
Beberapa saat kemudian, datang lagi seorang dokter perempuan, ia menyapaku,
"Bu, saya dokter anak ibu, yang telah siap menyambut kelehirannya. Tenang ya buu" Lagi-lagi aku tersenyum, sapaan mereka begitu hangat. Akupun semakin tenang menjalaninya.
Bismillah..
Operasi tengah berlangsung, aku bisa merasakan sibuknya mereka yang tengah mengoperasi namun aku tak merasakan sakit sama sekali, yang terasa hanya keram dan kaku. Di sela-sela operasi para doker dan timnya mencoba membuat celotehan-colotehan lucu agar aku tersenyum. aku tersenyum alakadarnya dan meneruskan dizikir. Ternyata seperti ini rasanya di operasi.
Setelah kurang lebih 30 menit bayiku keluar, dokter anak langsung mengambil alih dan memandikannya. Alhamdulillah ala kuli haal..10 menit kemudian aku bisa melihat bayiku yang lucu luar biasa dalam keadaan sudah bersih dan hangat berbalut selimut. Aku menangis tak sanggup menahan haru, masih dalam keadaan operasi aku mencium anaku untuk pertama kalinya.
Nikmat tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan. Amanah itu telah datang, kini aku betul-betul berpredikat sebagai seorang ibu. Setelah keluar dari ruangan operasi keluargaku menyambut hangat. Mereka tak henti-hentinya memberiku selamat. Suamiku menangis dan memeluku.
Terimakasih ya Allah, untuk sejarah yang telah Engkau goreskan hari ini.
01 oktober 2014
Zaga Shidiq Alfath telah tiba di dunia, semoga ia bisa menjadi panglima Allah yang tak lelah berjuang menegakan kedamaian dan kebenaran.
Hari ke-26 ODOPfor99days

Komentar
Posting Komentar