Menikmati kota metrapolitan

Dulu, ketika anak-anak sampai remaja, saya ingin sekali pergi ke jakarta. Maklum, korban tayangan-tanyangan FTV di televisi. Kemegahan ibu kota itu seolah memiliki magnet yang sangat kuat. Kalau di film-film, ketika datang ke jakarta pasti tempat yang pertama dikunjungi adalah bundaran HI atau Monas.

 Hingga pada suatu hari, kakakku yang sulung mengajak kami sekeluarga pergi jalan-jalan ke dufan dan pantai ancol, betapa senangnya kami saat itu, dalam hati bersorak sorai, akhirnya bisa juga pergi ke jakarta, dasar anak-anak, saking senangnya saya bilang pada setiap orang "mau ke jakarta" tanpa mereka tanya. Hhe

Dan tibalah kami sekeluarga di jakarta, menurut saya ini tiba-tiba dijakarta. Kapan lewat ke jakartanya? Perasaan tadi sepaniang jalan, jalan tol semua, dan tiba-tiba ada di dufan. Sebelah mana jakarta? Pikiran anak-anak saat itu tak bisa terima kalau ke jakarta tanpa melihat gedung-gedung tinggi seperti mall-mall disana. Kakakku bilang ini sudah dijakarta. Huft, seperti ini ya, ada rasa kecewa karena tak sesuai dengan yang dibayangkan, sepulang dari dufan kami pun memilih jalan tol lagi untuk menghindari macet katanya. Padahal, yang kuinginkam adalah lewat jalan-jalan biasa, agar bisa melihat kehidupan masyarakat jakarta yang sebenarnya.

Sampai saya remaja, jakarta tetap magnet yang kuat. Karena sampai bangku kuliah pun, pergi ke jakarta hanya melihat tol-tol panjang saja, tidak ada kehidupan aktivitas masyarakat disana. Sempat mengantar kaka ipar ke bandara soeta, yang dilewati tetap jalan tol langsung tiba airport. Jalan tol bagi saya seperti pintu ajaib yang keluar dari kantong doraemon. Tiba secara tiba-tiba, begitu kira-kira. Maka, Rasa jakarta belum juga saya dapatkan.

 Seandainya saya punya saudara disana, mungkin bisa menginap 2 atau 3 hari untuk menikmati rasa sebagai orang jakarta.

 Andai-andai itu ternyata Allah kabulkan, bukan sekedar saudara yang didapat, tapi suami sendiri yang punya kehidupan dijakarta. Setelah menikah, suami tak lantas mengajak saya tinggal di jakarta, katanya kehidupan di bandung jauh lebih baik ketimbang jakarta, alih-alih dikatakan seperti itu, saya malah semakin penasaran dengan yang namanya jakarta.

 Di saat merasakan jenuh diam dirumah setelah menikah, ditambah LDR dengan suami karena beliau dijakarta, tiba-tiba mendapat angin segar ketika suami berbicara di ujung telepon...

"minggu depan ikut kk ke jakarta ya..cukup seminggu atau 2 minggulah yaa, karena pasti ga betah, gerah banget disini "

Surprise banget, selama 2 minggu ini pasti bisa banget menikmati rasa sebagai masyarakat di jakarta, tak peduli suami memberi warning atas gerahnya jakarta. Bayangan-bayangan artis ibu kota muncul seketika..hhe

 Ini berkah dari kekuatan pikiran dan doa.


Hari ke-14 ODOP for 99days
 Baru bisa posting, karena semalem pusing luar biasa..

Komentar

Postingan Populer