fase memutuskan

 Percaya atau tidak, fase ini menjadi yang terberat dalam proses kehidupan. Memilih pasangan seumur hidup tak semudah memilih menu-menu di restoran, asal suka, asal enak. No!!

Satu hari setelah pernyataannya disampaikan pada ibu, ia meminta jawaban. Bagaimana mungkin aku langsung menjawab iya atau tidaknya sedangkan aku tak tahu betul ia siapa, asal-usulnya darimana, bagaimana keluarganya, bagaimana pekerjaannya, dan sederet pertanyaan lainnya. Ia datang ke acara reuni, lalu meminta aku untuk mejadi pendampingnya. Begitu simpelnya...

Namun, pertanyaan-pertanyaan diatas adalah hal yang wajar, bukankah seorang perempuan, butuh kepastian bahwa hidupnya akan baik-baik saja di masa yang akan datang. Maka aku menundanya untuk memberi jawaban, terlebih jadwal sidang sarjanaku tinggal 7 hari, rasa deg-degan menghadapi sidang ditambah memberi jawaban sakral atas masa depanku membuat sujud-sujud dimalam hari menjadi lebih panjang.

Ibuku memberi waktu agar aku lebih fokus pada persiapan sidang. Katanya selsaikan satu-satu, maka aku berusaha untuk fokus, namun gagal, fokus lagi, gagal lagi, fokus, fokus, fokus, hingga pada akhirnya sidang terlaksana dengam lancar dan hampir saja aku lupa bahwa ini adalah hari yang sama untuk memutuskan perihal lainnya.

Hari itu aku merasa lega ditambah haru dan bahagia, sidangku bernilai A, satu persatu teman-temanku memberi selamat, kami berpelukan, tak terasa 4 tahun berjuang dan bisa selesai pada hari ini. Selesai dalam satu pencapaian bukan berarti selesai dengan pencapaian lainnya. Ini hadiah spesial untuk keluargaku, terlebih ia yang kusebut "mama". Membesarkan 5 anak sendirian hingga semuanya menjadi sarjana adalah suatu keajaiban untuk kami. Allah, terimakasih sudah mengirimkan malaikat luar biasa ini.

Aku tak sabar ingin segera pulang, lalu bercerita selama proses sidang hingga debar-debar pengumumannya pada ibu, dan memang benar, setelah sampai kerumah ibu sedang menunggu kehadiranku, Ia mencium dan memeluk, betapa rasanya surga ini begitu dekat. Doamu yang membuat aku bisa bertahan hingga hari ini. Ibu melepaskan pelukannya, seulas senyum terlihat dari bibirnya. "Ada satu lagi tugas yang harus diselsaikan" kata-katamya datar tapi berhasil mengingatkanku akan satu hal. Hatiku berdesir, karena hingga detik ini aku tak menemukan kecenderungan.

Allah, apa yang harus aku putuskan.

Aku berdoa agar bisa melewati malam ini seperti dengan malam-malam sebelumnya. Semoga ia lupa, dan tak menagih jawaban, terus terang perasaanku merasa tak siap, namun aku tak punya alasan kuat untuk menolak. Kakaku hanya bilang bahwa semasa SMA dulu ia orang baik, namun pilihan keputusan tetap dikembalikan padaku. Beberapa informasi lainnya kudapatkan dari saudara jauh yang mengenal lingkungan kerjanya. Katanya pula tidak ada masalah dengan pekerjaannya, ia punya masa depan yang baik serta karir yang menunjang, perihal keimanannya? Tidak ada yang bisa mengukur keimanan seseorang, namun dari apa yang terlihat, bagaimana caranya bergaul, serta tepatnya waktu pergi ke masjid saat azan berkumandang mungkim bisa mewakili bagaimana kondisi keterikatannya dengan Rabbnya. lalu apa yang masih membuatku ragu.

"ialah persoalan hati"

Waktu berlalu dengan sangat lambat, ibu mengetuk pintu kamar sambil membawa handphone ditangannya, terdengar sayup-sayup suara lelaki diujung telepon. Segera aku memberi kode, untuk mengakhirinya, ibu mengerti, dan menyampaikan padanya bahwa jawaban akan diberikan beberapa saat lagi.

Allah, betapa rumitnya persoalan ini

Aku menangis dipangkuan ibu, aku bilang padanya bahwa aku belum siap sekarang, mana mungkin setelah lulus sidang ini aku langsung meninggalkannya tanpa ada bakti sedikitpun.

"aku ingin kerja dulu mah, agar bisa meringankan beban mamah dan membantu adik-adik sekolah" ucapku masih dengan isakan tangis. Seketika ibu pun menangis, ia tersenyum dan memelukku.

"semuanya mamah kembalikan pada putusanmu, namun ada banyak cara untuk berbakti pada orang tua" Aku menyeka sisa-sisa air mengalir di pipi.

"aku ingin menolaknya mah, aku tak punya kecenderungan padanya, aku takut"

"kecenderungan suka maksudnya?" tanya ibu, aku mengangguk

 "ada alasan lain?" lanjutnya, dan aku menggeleng.

"Ni, proses taaruf ini mahal harganya, tak semua orang bisa seperti ini, tanpa pacaran, tanpa adanya maksiat, mamah bangga punya anak yang memegang teguh pendiriannya, dan satu hal.." ibuku terdiam..

"mamah takut sama Allah"

"maksud mamah?" aku tak mengerti

"bukankah dalam hadist, bahwa pilihlah pasangan itu melalui 4 perkara, harta, nasab, fisik, serta agamanya, dan yang paling baik adalah agamanya?" aku mulai mengerti kemana arahnya.

 "sebetulnya tidak ada alasan untuk menolak ni, mamah takut Allah murka jika kita terlalu sombong, belum tentu akan ada lagi laki-laki baik setelahnya, soal perasaan, adalah wajar orang yang saling tidak mengenal butuh proses untuk menyayangi, tanya sekali lagi pada hatimu yang paling dalam, mamah kembalikan lagi pada keyakinanmu"

Deg! Aku tersungkur malu, bahwa memang telah mengingkari hati, menolak hanya alasan itu bukanlah keputusan tepat.

 Ingat di surat An-nur ayat 26

 " perempuan keji untuk laki-laki keji, dan laki-laki keji untuk perempuan yang keji pula. Sedangkan perempuan baik untuk laki-laki baik, dan laki-laki baik untuk perempuan baik pula. Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rizki yang mulia."

Allah, semoga aku termasuk ke dalam perempuan baik yang berhak mendapatkan laki-laki baik

 "makasi mah, aku minta doa restu, dan semoga Allah ridho" aku memeluknya lagi.

15 menit kemudian telepon berdering, aku tersenyum, dan ibu mengangkatnya.

"bismillahirrahmaanirrahiim"

 hari ke-5 for ODOP 99days

Komentar