Memantapkan hati dengan ilmu-Nya

 Jodoh sudah datang, tanggal pernikahan sudah jelas terpampang, bahkaan persiapan sudah masuk ke percetakan undangan. Namun, apakah kemudian syaithan akan berhenti menggoda kita yang tengah merencanakan pernikahan ini? Tentu nggak!!

Perjalanan menuju pernikahan adalah perjalanan luar biasa, ini menurut saya yang berproses melalui taaruf, ga tau juga versi teman2 yang telah melalui tahapan pacaran sebelumnya. Terutama soal kemantapan hati. Ini yang menjadi point besar, sedikitnya waktu dalam perkenalan bisa jadi salah satu pemicu keraguan.

Alasannya masuk akal.
"takut dia ga sebaik yang dibayangkan"
"takut dia ga sesoleh yang diharapkan"

Dan sederet ketakutan lainnya, belum lagi banyangan seseorang yang lebih menawan. Its real!! Soalnya ini yang saya alami. Rasa ragu-ragu tidak hanya muncul saat memutuskan ya atau tidak, tapi juga setelah kata "Ya" terucap. Proses "Ya" itu, telah memasuki tahap yang lebih panjang. Namun seperti yang kita tahu, bahwa ragu-ragu datangnya dari syaithan nan terkutuk, tapi tetep aja, pada kenyataannya masih suka ngikutin rasa ragu-ragu itu.

Perasaan takut salah memilih selalu hinggap setiap saat, ditambah ntah kenapa, orang-orang yang dulu pernah kita kagumin misalnya, atau bahasa gaulnya "kecengan" tiba-tiba memberi sinyal, "seolah-olah" dia berbalik suka ke kita. Darimana perasaan geer itu muncul? Tentu dari syaithan yang menadapat bala bantuan hawa nafsu kita. Atau, tiba-tiba seorang teman (yang tak tahu kalau kita sedang berproses) memberi kabar bahwa ada temannya yang sudah mapan, tinggal diluar negri, dengan gaji yang fantastis, ingin berkenalan? Rasanya seperti diberi sekarung durian, tapi kita ga bisa nikmatin. Ini benar-benar terjadi. Godaan macam apa ini, pasti terlintas "seandainya kabar ini datang sebelumnya"

Nah,
Seperti yang sudah dikatakan awal, bahwa niatan baik dengan cara yang baik, pasti berlipat mendapatkan godaannya, semakin kita menuju Allah, syaithan akan makin tak suka.

Maha baiknya Allah, Ia selalu punya cara untuk memberikan jawaban dari setiap doa-doa yang kita pinta. Doa saya saat itu cuma satu " Ya Allah, beri aku kemantapan hati yang datangnya dari keridhoanMu, jikalah ia memang jodohku makan lancarkanlah sampai kata "sah" itu terucap, tapi jika memang dia bukan jodohku, maka batalkanlah dengan cara apapun yang pembatalan itu datang darinya, bukan datang dariku"

Dan sinyal-sinyal dari Allah pun datang. Life sign bahasa kerennya. Pernah suatu ketika, secara tidak sengaja saya memutar radio, dan disitu terdengar seorang perempuan yang sedang curhat kepada ustad pengisi siaran, perempuan itu mengeluhkan jodohnya yang tak kunjung datang, padahal usianya sudah mencapai 40 tahun, bahkan ada yang lebih pedih didengar, ia berujar..

"ustad, saya sudah pasrah, saya ingin menikah, tak masalah menjadi istri yang kedua, ketiga, atau keempat, yang penting bisa menikah, saya ingin ketika meninggal nanti, sudah menggenapkan saparuh dien."

Ya Allah, mendengar curhatan itu saya tersungkur malu, betapa tidak bersyukurnya diri ini yang telah Allah beri jodoh dengan sempurna, tapi masih saja mengeluhkan sederet takut yang belum tentu terjadi, sedangkan orang lain lebih berat ujiannya.

Keputusan "Ya" ini, sudah melalui tahap istkharah juga hasil musyawarah keluarga, maka tak seharusnya muncul istilah ragu dikemudian, kalaupun itu hinggap, hadapi dengan benteng yang lebih kuat. Kembalillah bersujud disertai doa-doa panjang padaNya.

 "Takkan menyesal orang yang beristikharah. Tak akan rugi orang yang bermusyawarah" (H.R. Ath-Thabrani)

Satu hal,

Berbahagialah jika kita memutuskan peekara jodoh ini atas kriteria agamanya, karena memilihkan seorang ayah yang soleh menjadi tanggung jawab kita sebagai seorang ibu untuk anak-anak kelak.

InsyaAllah

Hari ke-7 for ODOP 99

Komentar

Postingan Populer