Ontime oh ontime
Soal tunggu dan menunggu, pasti kebanyakan lebih memilih ditunggu daripada menunggu. Pasalnya ini udah semacam kebiasaan yang membudaya, ketika mau janjian dengan seorang teman misalnya, waktu janjian jam 10, maka kita akan pergi dari rumah sekitar jam 10 kurang 15 menit, padahal jarak yang harus ditempuh bisa jadi membutuhkan waktu lebih dari 15 menit. Selama diperjalanan kita beubah menjadi rider yang sedang berlomba, nampak sekali sedang "mengejar waktu" alhasil semua serba tergesa-gesa, sedangkan sesuatu yang dimulai dengan tergesa-gesa pasti pada akhirnya kurang baik.
sesampainya di tempat janjian, masih dengan detak jantung yang begitu cepat, kita akan berlari-lari kecil karena waktu menunjukan jam 10 lebih 5 menit, dalam nafas yang masih ngos-ngosan, rupanya mata ini tak juga menemukan sesosok teman yang kita cari.
Dan, ternyata ada yang lebih telat..
Begitulah budaya kita, orang-orang indonesia kebanyakan, berpikir telat adalah sesuatu yang biasa, yang sangat wajar, bahkan ada beberapa dosen atau guru yang juga terkenal dengan jam karetnya. Sedangkan mereka adalah sosok teladan yang akan dicontoh oleh anak didiknya, kebiasaan di organisasi pun tak ada bedanya, rapat yang dijanjikan pukul set.4 tapi baru dimulai sekitar jam set.5.
Itu semua saya alami, dan sangat diakui bisa jadi saya ini termasuk ke dalam lingkaran orang-orang berpredikat jam karet. Bawaanya ngerasa rugi kalau kita jatuhnya yang harus menunggu, daripada kesel menunggu lebih baik datangnya pas-pasan aja dengan waktu yang telah dijadwalkan, jelas tanpa memikirkan berbagai kendala yang mungkin saja bisa terjadi semisal jalanan macet atau ban kempes.
Kejadian ini berulang dalam setiap aktivitas, jam karet ini saudara kembarnya malas alias tukang menunda waktu..
Astagfirullah, saya bangeet...kebiasaan jelek ini terbawa setelah menikah, bertolak belakang dengan karakter suami yang harus selalu ontime bahkan before time, katanya lebih baik menunggu daripada ditunggu orang. Menunggu dapat pahala kesabaran serta bisa menjadi teladan, sedangkan menjadi orang yang ditunggu dapat dosa atas keluhan teman. Meringankan beban orang lain bisa dengan cara sederhana seperti ini,, yaitu ontime..
Orang-orang yang tepat waktu pasti akan lebih dihargai ketimbang mereka yang asal datang dalam jam berapa pun. Allah, telah memperingatkan soal waktu ini berulang-ulang dalam alquran.
Demi waktu, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali bagi mereka yang telah dengan sadar menggunakan waktunya untuk saling menasehati dalam kebenaran.
Kejadian ini terinspirasi ketika terjadwal pengajian mingguan di sore hari, suami tanya "mau datang jam berapa?"
Spontan saya bilang "nanti aja datengnya pas jam 4, soalnya ibu-ibu yang lain juga suka ngaret" Maka keluarlah nasihat-nasihat diatas. Hhe
Dan ternyata, setelah dipaksakan untuk membiasan diri tepat waktu, ada rasa bahagia tersendiri, benar saja orang-orang jadi lebih segan dan menghargai kita. Hanya dengan datang ontime, ada banyak kebaikan yang bisa kita dapat.
Masih sangat belajar menghargai waktu, berat memang, tapi bisa kita usahakan..
Yeah!! Ontime oh ontime..
Hari ke-13 ODOPfor99days
sesampainya di tempat janjian, masih dengan detak jantung yang begitu cepat, kita akan berlari-lari kecil karena waktu menunjukan jam 10 lebih 5 menit, dalam nafas yang masih ngos-ngosan, rupanya mata ini tak juga menemukan sesosok teman yang kita cari.
Dan, ternyata ada yang lebih telat..
Begitulah budaya kita, orang-orang indonesia kebanyakan, berpikir telat adalah sesuatu yang biasa, yang sangat wajar, bahkan ada beberapa dosen atau guru yang juga terkenal dengan jam karetnya. Sedangkan mereka adalah sosok teladan yang akan dicontoh oleh anak didiknya, kebiasaan di organisasi pun tak ada bedanya, rapat yang dijanjikan pukul set.4 tapi baru dimulai sekitar jam set.5.
Itu semua saya alami, dan sangat diakui bisa jadi saya ini termasuk ke dalam lingkaran orang-orang berpredikat jam karet. Bawaanya ngerasa rugi kalau kita jatuhnya yang harus menunggu, daripada kesel menunggu lebih baik datangnya pas-pasan aja dengan waktu yang telah dijadwalkan, jelas tanpa memikirkan berbagai kendala yang mungkin saja bisa terjadi semisal jalanan macet atau ban kempes.
Kejadian ini berulang dalam setiap aktivitas, jam karet ini saudara kembarnya malas alias tukang menunda waktu..
Astagfirullah, saya bangeet...kebiasaan jelek ini terbawa setelah menikah, bertolak belakang dengan karakter suami yang harus selalu ontime bahkan before time, katanya lebih baik menunggu daripada ditunggu orang. Menunggu dapat pahala kesabaran serta bisa menjadi teladan, sedangkan menjadi orang yang ditunggu dapat dosa atas keluhan teman. Meringankan beban orang lain bisa dengan cara sederhana seperti ini,, yaitu ontime..
Orang-orang yang tepat waktu pasti akan lebih dihargai ketimbang mereka yang asal datang dalam jam berapa pun. Allah, telah memperingatkan soal waktu ini berulang-ulang dalam alquran.
Demi waktu, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali bagi mereka yang telah dengan sadar menggunakan waktunya untuk saling menasehati dalam kebenaran.
Kejadian ini terinspirasi ketika terjadwal pengajian mingguan di sore hari, suami tanya "mau datang jam berapa?"
Spontan saya bilang "nanti aja datengnya pas jam 4, soalnya ibu-ibu yang lain juga suka ngaret" Maka keluarlah nasihat-nasihat diatas. Hhe
Dan ternyata, setelah dipaksakan untuk membiasan diri tepat waktu, ada rasa bahagia tersendiri, benar saja orang-orang jadi lebih segan dan menghargai kita. Hanya dengan datang ontime, ada banyak kebaikan yang bisa kita dapat.
Masih sangat belajar menghargai waktu, berat memang, tapi bisa kita usahakan..
Yeah!! Ontime oh ontime..
Hari ke-13 ODOPfor99days
Komentar
Posting Komentar