Monas
Ialah monas,
tempat pertama kali kita bertamasya bersama.
Hanya berdua, layaknya anak-anak muda yang mesra berpacaran.
Sesekali curi pandang, lalu tersenyum.
Di perjalanan aku diperlakukan seperti putri.
Tak sekalipun kau lepaskan genggaman tangan.
Menuju monas,
kita sabar menunggu busway yang tak kunjung datang.
Aku mengeluh sakit kepala, lalu engkau menawarkan bahumu untuk aku bersandar. Kedatangan busway membuat aku kembali bersemangat, cepat-cepat kau tarik tanganku, Agar aku tak terjebak pada kerumunan orang yang berebut masuk ke dalam.
Di dalam busway, tak ada bangku yang kosong.
Aku berdiri di depan, sedang engkau dibelakang.
Terasa sekali bahwa aku punya bodyguard.
Yang siap siaga sepenuh hati melindungi.
Sesampainya dimonas, tak henti-hentinya kita mengayunkan tangan.
Aku di suruh berpose sesuka hati, lalu engkau merekamnya.
Terkesan norak dan kampungan, tapi justru itu momen berharga bagi kita.
Mengabadikan langkah, yang kelak bernama sejarah.
Pada monas, kita gigih untuk menaiki tangganya satu persatu.
Aku mulai mengeluh karena pegal, tapi engkau membisikan, sebentar lagi kita sampai.
Dan benar saja kita tiba di atas monas, angin segar menyeruak memberi kesejukan. Nyaman sekali berada disini.
Di menara monas, kita duduk bersama.
Berbincang hal-hal ringan, namun bermakna.
Kembali saling melempar senyum.
Ini adalah permulaan dari seribu perjalanan yang akan kita lewati bersama.
Monumen Nasional ini.
Kelak akan kita datangi kembali.
Mungkin tetap berdua, tapi bisa jadi juga bertiga, berempat, berlima, dan seterusnya..hhe
Hari ke-16 ODOPfor99days
tempat pertama kali kita bertamasya bersama.
Hanya berdua, layaknya anak-anak muda yang mesra berpacaran.
Sesekali curi pandang, lalu tersenyum.
Di perjalanan aku diperlakukan seperti putri.
Tak sekalipun kau lepaskan genggaman tangan.
Menuju monas,
kita sabar menunggu busway yang tak kunjung datang.
Aku mengeluh sakit kepala, lalu engkau menawarkan bahumu untuk aku bersandar. Kedatangan busway membuat aku kembali bersemangat, cepat-cepat kau tarik tanganku, Agar aku tak terjebak pada kerumunan orang yang berebut masuk ke dalam.
Di dalam busway, tak ada bangku yang kosong.
Aku berdiri di depan, sedang engkau dibelakang.
Terasa sekali bahwa aku punya bodyguard.
Yang siap siaga sepenuh hati melindungi.
Sesampainya dimonas, tak henti-hentinya kita mengayunkan tangan.
Aku di suruh berpose sesuka hati, lalu engkau merekamnya.
Terkesan norak dan kampungan, tapi justru itu momen berharga bagi kita.
Mengabadikan langkah, yang kelak bernama sejarah.
Pada monas, kita gigih untuk menaiki tangganya satu persatu.
Aku mulai mengeluh karena pegal, tapi engkau membisikan, sebentar lagi kita sampai.
Dan benar saja kita tiba di atas monas, angin segar menyeruak memberi kesejukan. Nyaman sekali berada disini.
Di menara monas, kita duduk bersama.
Berbincang hal-hal ringan, namun bermakna.
Kembali saling melempar senyum.
Ini adalah permulaan dari seribu perjalanan yang akan kita lewati bersama.
Monumen Nasional ini.
Kelak akan kita datangi kembali.
Mungkin tetap berdua, tapi bisa jadi juga bertiga, berempat, berlima, dan seterusnya..hhe
Hari ke-16 ODOPfor99days

Komentar
Posting Komentar