Check Up

Ini adalah jadwal check up kehamilan yang pertama, ga nyangka bisa merasakan sensasi antri di ruang obgyn dengan ibu-ibu hamil lainnya. Beberapa diantaranya terlihat lelah menopang bayi diperut yang mekin membesar, sedikit jalan lalu duduk lagi karena kaki yang pegal, tangan-tangan mereka tak henti mengelus-elus perut dengan berbagai doa dalam rapalannya. Aku merasa paling muda berada ditengah-tengah mereka, ku taksir rata-rata usia ibu hamil ini kisaran 27-38 tahun, sedang aku baru 23 tahun.

Rasa "paling muda" itu ternyata salah, disebelah pojok kiri ada sepasag suami istri yang jauuuh lebih muda, keduanya masih sangat belia, tiba-tiba perhatianku tertuju pada mereka. Ini wajah-wajah anak SMP, dari gerak-geriknya mereka terlihat malu-malu, tapi jelas kalau yang perempuan sedang hamil, karena terus memegangi kepala, sepertinya perempuan muda itu sedang morning sickness, mengalami kemualan dan muntah-muntah yang disertai sakit dikepala.

Dari wajah polosnya terlihat bahwa suaminya itu bingung apa yang harus dilakukan, sepertinya mereka belum siap menerima kondisi ini, mereka masih usia sekolah, tapi berada di ruang obgyn. Aku mengehela nafas, apa gerangan yang menjadi keputusan ketika harus menanggalkan sekolah lalu menikah muda seperti ini.

Tidak ada yang salah dengan menikah muda, ketika fitnah itu nampak lebih jelas, menikah adalah solusi untuk menghindarinya.

 Tidak ada yang salah dengan menikah muda, sejauh mereka siap dengan segenap ilmu dan mental untuk mengarungi bahtera rumah tangganya.

Tidak ada yang salah dengan menikah muda, sepanjang Allah Ridho dengan alasan baik disertai cara-cara baik dalam menjalani prosesnya.

 Menikah muda adalah pilihan yang tak boleh disesali pada akhirnya.

 Sekilas aku teringat pada anak-anak muda dikampungku, yang pada usia 14 tahun sudah menggelar acara 7 bulanan. Rata-rata mereka menikah di usia yang masih sangaaat muda, kebanyakan menjadi korban pergaulan, yang menyebabkan kehamilan sebelum janji suci itu terucap. Astagfirullah.

 Semoga kedua orang yang sedang aku lihat ini tidak seperti mereka yang dikampungku, mereka hanya sedang belajar bagaimana menghadapi proses kehamilan ini. Ada rasa salut ketika menikah muda ini keputusan yang mereka ambil, jika alasannya baik, yakinlah bahwa Allah akan membingbing setiap proses yang akan dilaluinya.

Aku jadi berkaca pada diriku sendiri, yang masih suka "merasa"paling menyedihkan diruangan ini karena check up seorang diri, tanpa suami. Namun inilah proses kemandirian yang harus aku jalani. Sama seperti mereka yang sedang berjuang memahami kehidupan.

Nabi Shallallahu a'laiwassallam bersabda: "Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit, rasa cape, kekhawatiran (dalam pikiran), sedih (atas sesuatu yang hilang), kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti, sampai pun duri yang menusuknya, melainkan akan dihapus dosa-dosanya" (H.R Bukhori dan Muslim)

 Sekali lagi aku menghela nafas, ada rasa syukur menyeruak tatkala Allah menyapa dengan hikmah-hikmahNya melalui orang-orang yang tanpa sengaja kita temui.

Bersyukur atas jiwa yang tertatih-tatih dalam menapakinya, semoga keridhoan dan keikhlasan menghantarkan terhapusnya dosa-dosa yang melekat dalam diri.
 Aamin ya Robb..

Hari ke-23 ODOPfor99days

Komentar

Postingan Populer