LDR

LDR, sudah tak asing kita dengar pada zaman sekarang, saya tau istilah ini ketika dulu semasa SMA ada teman yang curhat kesepian karena berpisah sama pacarnya untuk beberapa waktu. Berulang kali dia nyebutin kata LDR dalam curhatannya itu. Saya menanggapinya biasa saja, merasa berlebihan bahkan, mungkin karena posisi saya yang tidak merasakan ditinggal pacar, wong punya pacar aja ngga..hhe

LDR, semakin booming ketika dijadikan salah satu judul lagu oleh penyanyi indonesia. Dimana-mana demam LDR, puisi-puisi pun bermunculan atas dasar LDR yang sedang mereka jalani. Blog-blog yang mereka miliki mendadak romantis atas luapan rindu karenanya.

Dan ternyata LDR itu singgah dalam kehidupan kami, salah satu perjalanan yang mau tidak mau harus dilewati. Terlebih saya yang sedang hamil 1 bulan saat itu, di saat lagi manja-manjanya, ingin dibelikan ini dan itu, tiba-tiba ada kabar bahwa suami harus tugas di pulau sumatra. Bukan untuk 2 atau 3 hari, tapi 3 sampai 4 bulan lamanya, rasanya nyesek tiada tara. T_T

Hari keberangkatan itu pun datang. Saya membantunya mengepak barang, ia tersenyum dan berkata

 "sabar yaa.." karena masih tak terima sepenuhnya saya mengangguk asal.

 " Ini akan menjadi pembeda antara kita dengan yang lainnya, Allah ingin mengajari kita untuk lebih sabar, ini perjuangan kk mencari nafkah, dan perjuangan ayang untuk menjadi lebih kuat, terutama di saat-saat hamil seperti ini. Kita bisa..insyaAllah"

Mendengar ucapan itu, malah membuat diri ini semakin sedih, ternyata seperti ini beratnya melepas suami yang berjuang ke medan perang, yang terbayang adalah bagaimana nanti saya disini sendiri, padahal rumah orangtua dekat, kakak-kakak pun dekat, tapi tetap merasa takut akan kehilangan.

Sabar..sabar..sabar..itu yang seringkali saya ucapkan untuk penghibur diri. Semua sudah Allah atur, ini bagian dari skenario kehidupan kami berdua, pasrahkan semuanya pada yang membuat skenario. .

Maka terbayang, betapa beratnya menjadi bunda Siti Hajar ketika ditinggalkan oleh Ayahanda Ibrahim untuk berjuang di jalan Allah dalam keadaan yang sangat sulit, ditambah saat itu Nabi Ismail masih bayi, ditinggal berdua di daerah gurun pasir yang gersang, tapi beliau terima denga penuh keikhlasan, bahwa semua sudah ketetapanNya, dan menyakini bahwa Allah akan menolongnya.

 MasyaAllah, mengingat itu jelas saya merasa tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keridhoan Bunda Sitin Hajar di tinggalkan suaminya.

Yakinlah bahwa Allah tidak akan memberi ujian di luar kesanggupan hambaNya.

Dengan memberi segenap senyuman tulus akhirnya saya pun bisa melepaskan kepergian suami bertugas, doa terbaik dari seorang istri akan menghantarkan kesuksesan suaminya.

 Semoga Allah ridho, dan kita bisa menikmati masa-masa LDR ini.

 Long Distance Relationship, adalah bumbu yang membuat kita makin dekat, dalam jarak yang terpisah cukup jauh.

 Hari ke-18 ODOPfor99days

Komentar

Postingan Populer