Menikmati kota metrapolitan part2
Ini kota jakarta. Kota yang katanya punya segudang cerita, dari mulai rakyat jelata hingga kehidupan para pejabat yang bergaya sosialita.
ini kota jakarta, yang panasnya luar biasa, bisingnya memekakan telinga, dan orang-orangnya acuh tak acuh.
Ini kota jakarta, pusat dari negara indonesia, pusat berbagai aturan ditetapkan dan disahkan, pusat adu kekuasaan, pusat dari segala ketenaran.
Barangkali itu hanya secuil dari gambaran ibu kota.
Sependek saya berkenalan dengan kehidupan jakarta, yang dulunya tebayang akan "wah" sekali, ternyata hanya menyisakan kemirisan saja. Tidak dipungkiri bahwa gedung-gedung pencakar langit gagah berdiri, saya terasa menjadi sangat kecil diantaranya. Namun kemewahan-kemewahan ini terasa semu bagi saya, ntah dengan yang lainnya.
Suami mengajak saya ke sebuah tempat sederhana, hanya sepetak kamar, sudah tak asing bagi kami yang telah merasakan suasana kosan selama bertahun-tahun. Tak ada masalah sama sekali dengan tempat tinggal, justru itu membuat kami semakin dekat dalam bertukar cerita lengkap dengan backsound dari suara kipas angin yang terus menyala sepanjang hari.
Gerah, sangat gerah baru beberapa hari saja rasanya ingin segera pulang, padahal dulu begitu mengidamkan suasana ini. Ditambah jenuh karena ditinggal suami pergi ke kantor yang baru pulang pada sore hari. Cukuplah 2 hari ini saya berdiam diri di kosan.
Keesokan harinya ketika seperti biasa ditinggal suami, saya memutuskan untuk berjalan-jalam di sekitar komplek kosan. Ini tergolong kosan mewah sebenarnya karena berada di komplek yang sangat nyaman, bersih, dan terjaga satpam. Satu dua orang sedang berada di luar, saya melewatinya dengan sapaan dan senyuman, namun ternyata tak mereka hiraukan, awalnya berpikir mungkim tak terdengar, maka saya mencobanya lagi pada orang yang berbeda, tanggapan mereka sama. Tiis.
Apa ada yang salah dalam diri saya, hingga mereka tak hiraukan sapaan dan senyuman yang manis ini, hhe..saya mencoba tetap berkhusnudzon, brangkali mereka sedang lelah atau punya masalah. Besok saya akan coba lagi, menyapa orang lebih banyak dari hari ini.
Ini jadi semacam survei kecil-kecilan, saya sengaja melewati sekerumun ibu-ibu yang ntah sedang apa, jurus sapa dan senyum dikeluarkan, dan hasilnya sama saja, hanya satu dua orang yg peduli walaupun hanya sekedar menengok. Ada rasa nyesek juga ketika diacuhkan seperti ini. Tapi sudahlah, pada saat itu rasa lapar tak tertahan, maka saya mampir pada sebuah warteg, pesan nasi dan telur dadar saja, karena menu yang lain tak menarik hati. Ku kira menu sederhana ini bisa didapatkan sekitar 4 atau 5 ribu, ternyata 7 atau 8 ribu. Tepatnya saya lupa.
Ya Allah, barangkali ini sebagai salah satu alasan, manusia-manusia itu terlalu sibuk untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya yang begitu mahal. Untuk menu sederhana itu harus merogoh kocek hampir 10 ribu, bagaimana dengan kebutuhan yang lainnya. Simpulan sederhana ini kenjadi dasar dari pemakluman atas sikap acuh tak acuhnya sebagian orang-orang. Saya yakin hanya sebagian, karena pasti masih banyak orang-orang ramah disini.
Culture shock bahasa kerennya. Rasa syukur ini menyeruak tatkala mengingat betapa baiknya Allah yang telah mentakdirkan saya didaerah yang masih sangat erat tali persaudaraannya. Betul, bahwa kita terkadang selalu melihat bahwa rumput tetangga nampak lebih hijau, tapi lupa tak menengok rumput sendiri, bisa jadi rumput yang sedang diinjak ini pun terlihat lebih hijau oleh mereka yang kita anggap justru lebih hijau tadi. Hhe
Tak ada yang lebih unggul atau kurang satu sama lain, masing-masing punya kelebihan pun dengan kekurangan.
Bukti dari keMaha Adilan Allah..
Hari ke-15 ODOPfor99days
ini kota jakarta, yang panasnya luar biasa, bisingnya memekakan telinga, dan orang-orangnya acuh tak acuh.
Ini kota jakarta, pusat dari negara indonesia, pusat berbagai aturan ditetapkan dan disahkan, pusat adu kekuasaan, pusat dari segala ketenaran.
Barangkali itu hanya secuil dari gambaran ibu kota.
Sependek saya berkenalan dengan kehidupan jakarta, yang dulunya tebayang akan "wah" sekali, ternyata hanya menyisakan kemirisan saja. Tidak dipungkiri bahwa gedung-gedung pencakar langit gagah berdiri, saya terasa menjadi sangat kecil diantaranya. Namun kemewahan-kemewahan ini terasa semu bagi saya, ntah dengan yang lainnya.
Suami mengajak saya ke sebuah tempat sederhana, hanya sepetak kamar, sudah tak asing bagi kami yang telah merasakan suasana kosan selama bertahun-tahun. Tak ada masalah sama sekali dengan tempat tinggal, justru itu membuat kami semakin dekat dalam bertukar cerita lengkap dengan backsound dari suara kipas angin yang terus menyala sepanjang hari.
Gerah, sangat gerah baru beberapa hari saja rasanya ingin segera pulang, padahal dulu begitu mengidamkan suasana ini. Ditambah jenuh karena ditinggal suami pergi ke kantor yang baru pulang pada sore hari. Cukuplah 2 hari ini saya berdiam diri di kosan.
Keesokan harinya ketika seperti biasa ditinggal suami, saya memutuskan untuk berjalan-jalam di sekitar komplek kosan. Ini tergolong kosan mewah sebenarnya karena berada di komplek yang sangat nyaman, bersih, dan terjaga satpam. Satu dua orang sedang berada di luar, saya melewatinya dengan sapaan dan senyuman, namun ternyata tak mereka hiraukan, awalnya berpikir mungkim tak terdengar, maka saya mencobanya lagi pada orang yang berbeda, tanggapan mereka sama. Tiis.
Apa ada yang salah dalam diri saya, hingga mereka tak hiraukan sapaan dan senyuman yang manis ini, hhe..saya mencoba tetap berkhusnudzon, brangkali mereka sedang lelah atau punya masalah. Besok saya akan coba lagi, menyapa orang lebih banyak dari hari ini.
Ini jadi semacam survei kecil-kecilan, saya sengaja melewati sekerumun ibu-ibu yang ntah sedang apa, jurus sapa dan senyum dikeluarkan, dan hasilnya sama saja, hanya satu dua orang yg peduli walaupun hanya sekedar menengok. Ada rasa nyesek juga ketika diacuhkan seperti ini. Tapi sudahlah, pada saat itu rasa lapar tak tertahan, maka saya mampir pada sebuah warteg, pesan nasi dan telur dadar saja, karena menu yang lain tak menarik hati. Ku kira menu sederhana ini bisa didapatkan sekitar 4 atau 5 ribu, ternyata 7 atau 8 ribu. Tepatnya saya lupa.
Ya Allah, barangkali ini sebagai salah satu alasan, manusia-manusia itu terlalu sibuk untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya yang begitu mahal. Untuk menu sederhana itu harus merogoh kocek hampir 10 ribu, bagaimana dengan kebutuhan yang lainnya. Simpulan sederhana ini kenjadi dasar dari pemakluman atas sikap acuh tak acuhnya sebagian orang-orang. Saya yakin hanya sebagian, karena pasti masih banyak orang-orang ramah disini.
Culture shock bahasa kerennya. Rasa syukur ini menyeruak tatkala mengingat betapa baiknya Allah yang telah mentakdirkan saya didaerah yang masih sangat erat tali persaudaraannya. Betul, bahwa kita terkadang selalu melihat bahwa rumput tetangga nampak lebih hijau, tapi lupa tak menengok rumput sendiri, bisa jadi rumput yang sedang diinjak ini pun terlihat lebih hijau oleh mereka yang kita anggap justru lebih hijau tadi. Hhe
Tak ada yang lebih unggul atau kurang satu sama lain, masing-masing punya kelebihan pun dengan kekurangan.
Bukti dari keMaha Adilan Allah..
Hari ke-15 ODOPfor99days

Komentar
Posting Komentar