reuni in love part 1
Sebuah judul yang pemaknaannya bisa berbagai macam rupa.
Suatu ketika, seorang teman laki-laki SMA yang sudah lama tidak berkomunikasi, menghubungi via message facebook. Awalnya bertegur sapa biasa, diakhir perbincangan dia bilang mau ada reuni alumni dkm antar angkatan, aku meresponnya biasa saja, karena memang setiap tahun reuni alumni ini selalu diadakan.
Aku dan dia sama-sama satu angkatan yang dulu ketika memakai seragam putih abu aktif di organisasi dkm. Namun yang membuatnya beda adalah dia mengajukan rumahku untuk dijadikan tempat reuni.
"apa tidak ada tempat lain? Rumahku kecil" jawabku agak sedikit keberatan, mengingat pertemuan reuni ini pasti akan dihadiri banyak orang, takut-takut rumah orangtuaku tak cukup untuk menampung semuanya.
Temanku bilang tempat lain sudah dicoba tapi belum ada hasil positif, ia juga mengatakan bahwa aku jangan khawatir soal konsumsi dan lain sebagainya, dengan menyiapkan tempat saja sudah cukup.
"ini ajang silaturahim, kapan lagi cobaa.." hayaaa, bujukan itu sudah ditembakan dalam berbagai rupa, dan aku tak bisa menolak.
Dengan hati-hati aku bicarakan soal ini pada orangtuaku, ada kehawatiran jika mereka tak setuju, namun di luar dugaan, ibuku meresponnya dengan sangat positif, ia mau membantu untuk mempersiapkan segalanya.
Pagi-pagi menjelang pertemuan reuni ini, ibuku mengajak ke pasar untuk belanja semua keperluan, membeli bahan masakan yang jumlahnya tak sedikit tentu membutuhkan banyak tenaga, namun ibuku tak mengeluh soal pegal-pegal yang dirasakan tangannya ketika menenteng banyak kantong kresek yang beratnya bisa jadi lebih dari 8 kilo. Tanganku pun penuh barang belanjaan, rasanya tak cukup lagi menambah beban. Seketika perasaanku tak enak karena sudah merepotkan, tenaganya jelas terkuras, belum lagi ia pun harus segera memasaknya karena waktu yang sudah mepet. Berkali-kali aku meminta maaf karena telah membuatnya harus selelah ini, aah dan soal uang belanja, semua tentu darinya juga. Lengkap sudah rasa bersalahku.
Belanja selama 2 jam itu berhasil menyulap scoopy kesayangan seperti kuda yang membawa banyak upeti. Aku mengendarainya penuh hati-hati. Lelah sekali rasanya, keluhku dalam hati. Lalu apakabar dengan ibuku yang pasti rasa lelahnya berkali-kali lipat. Ketika diperjalanan Aku bertanya basa-basi untuk menutupi rasa malu.
"mamah pasti capek ya? Maaf ya maah"
Tangan ibuku menepuk pundaku dari jok belakang.
"Cape dari mana, malahan mamah seneng, jangan bilang capek untuk suatu kebaikan!!"
Deg!! Kalimat ibuku begitu menusuk, padahal baru saja aku mengeluhkan hal itu.
"Eh iya mah, aku masih suka banyak ngeluh, makasi udah ngingetin. Oh ya, untuk uang belanja nanti bakal di ganti sama panitia, jadi uang mamah di pinjem dulu yaa.."
Sekali lagi, tangan ibuku mendarat di pundak sebelah lainnya.
"Ga usah diganti, semuanya dari mamah aja, beramal itu jangan setemgah-setengah, kita harus total dan ikhlas, inget ya ni, ini berlaku seumur hidup, kalau ada niat berbuat baik, jangan SETENGAH-SETENGAH, harus TOTAL dan IKHLAS, minta ridhonya Allah, dengan banyaknya amalan, insyaallah hidup lebih mudah, termasuk untuk dapetin jodoh"
"Jodoh mah? Ko tiba-tiba jodoh?"
"Siapa tau"
"ih, ga nyambung.." hahaha, kami pun tertawa bersama.
Itulah ibuku, betapa ringannya ketika membantu orang lain. Tanpa mengeluh, tanpa itungan, dan tanpa balas jasa, persis seperti profesinya sebagai seorang guru yang telah lama mendidik selama lebih dari 20 tahun.
Hari ke-3 ODOP for 99days
Suatu ketika, seorang teman laki-laki SMA yang sudah lama tidak berkomunikasi, menghubungi via message facebook. Awalnya bertegur sapa biasa, diakhir perbincangan dia bilang mau ada reuni alumni dkm antar angkatan, aku meresponnya biasa saja, karena memang setiap tahun reuni alumni ini selalu diadakan.
Aku dan dia sama-sama satu angkatan yang dulu ketika memakai seragam putih abu aktif di organisasi dkm. Namun yang membuatnya beda adalah dia mengajukan rumahku untuk dijadikan tempat reuni.
"apa tidak ada tempat lain? Rumahku kecil" jawabku agak sedikit keberatan, mengingat pertemuan reuni ini pasti akan dihadiri banyak orang, takut-takut rumah orangtuaku tak cukup untuk menampung semuanya.
Temanku bilang tempat lain sudah dicoba tapi belum ada hasil positif, ia juga mengatakan bahwa aku jangan khawatir soal konsumsi dan lain sebagainya, dengan menyiapkan tempat saja sudah cukup.
"ini ajang silaturahim, kapan lagi cobaa.." hayaaa, bujukan itu sudah ditembakan dalam berbagai rupa, dan aku tak bisa menolak.
Dengan hati-hati aku bicarakan soal ini pada orangtuaku, ada kehawatiran jika mereka tak setuju, namun di luar dugaan, ibuku meresponnya dengan sangat positif, ia mau membantu untuk mempersiapkan segalanya.
Pagi-pagi menjelang pertemuan reuni ini, ibuku mengajak ke pasar untuk belanja semua keperluan, membeli bahan masakan yang jumlahnya tak sedikit tentu membutuhkan banyak tenaga, namun ibuku tak mengeluh soal pegal-pegal yang dirasakan tangannya ketika menenteng banyak kantong kresek yang beratnya bisa jadi lebih dari 8 kilo. Tanganku pun penuh barang belanjaan, rasanya tak cukup lagi menambah beban. Seketika perasaanku tak enak karena sudah merepotkan, tenaganya jelas terkuras, belum lagi ia pun harus segera memasaknya karena waktu yang sudah mepet. Berkali-kali aku meminta maaf karena telah membuatnya harus selelah ini, aah dan soal uang belanja, semua tentu darinya juga. Lengkap sudah rasa bersalahku.
Belanja selama 2 jam itu berhasil menyulap scoopy kesayangan seperti kuda yang membawa banyak upeti. Aku mengendarainya penuh hati-hati. Lelah sekali rasanya, keluhku dalam hati. Lalu apakabar dengan ibuku yang pasti rasa lelahnya berkali-kali lipat. Ketika diperjalanan Aku bertanya basa-basi untuk menutupi rasa malu.
"mamah pasti capek ya? Maaf ya maah"
Tangan ibuku menepuk pundaku dari jok belakang.
"Cape dari mana, malahan mamah seneng, jangan bilang capek untuk suatu kebaikan!!"
Deg!! Kalimat ibuku begitu menusuk, padahal baru saja aku mengeluhkan hal itu.
"Eh iya mah, aku masih suka banyak ngeluh, makasi udah ngingetin. Oh ya, untuk uang belanja nanti bakal di ganti sama panitia, jadi uang mamah di pinjem dulu yaa.."
Sekali lagi, tangan ibuku mendarat di pundak sebelah lainnya.
"Ga usah diganti, semuanya dari mamah aja, beramal itu jangan setemgah-setengah, kita harus total dan ikhlas, inget ya ni, ini berlaku seumur hidup, kalau ada niat berbuat baik, jangan SETENGAH-SETENGAH, harus TOTAL dan IKHLAS, minta ridhonya Allah, dengan banyaknya amalan, insyaallah hidup lebih mudah, termasuk untuk dapetin jodoh"
"Jodoh mah? Ko tiba-tiba jodoh?"
"Siapa tau"
"ih, ga nyambung.." hahaha, kami pun tertawa bersama.
Itulah ibuku, betapa ringannya ketika membantu orang lain. Tanpa mengeluh, tanpa itungan, dan tanpa balas jasa, persis seperti profesinya sebagai seorang guru yang telah lama mendidik selama lebih dari 20 tahun.
Hari ke-3 ODOP for 99days

Pesan mamahnya dalem banget, sukaaa.. "jangan bilang capek untuk suatu kebaikan"
BalasHapus