my skripsweet story

Tahun 2013, bagi saya adalah tahun perjuangan. Seorang mahasiswa tingkat akhir yang ingin segera melepaskan predikat kemahasiswaannya. Bukan karena tak suka belajar sebagai mahasiswa, bukan pula karena tak memcintai kampus dan segudang pesona didalamnya. Melainkan karena ingin segera mengurangi beban orangtua, dengan harapan setelah lulus bisa bekerja. Sebuah tujuan umum yg banyak diperjuangkan orang. Berpikir masih mainstrem, bahwa bekerja adalah satu-satunya cara untuk menanggung malu, sebab masih belum bisa menghasilkan uang yang juga bisa dirasakan oleh orang-orang terkdekat.

Maka, di awal bulan february 2013 perjuangan saya menyelesaikan skripsi dimulai. perjalanan yg harus di tempuh antara ujungberung-ledeng bukan perjalanan sembarangan. Karenya membutuhkan waktu yang lama juga kesbaran di setiap perhentian.

Tiba dikampus dengan peluh bercucuran, bayangan wajah pak dosen sudah di depan mata, harapan itu begitu besar, minimal setiap bertemu dengannya dapat secercah cahaya. Langkah kaki ini sudah sampai tepat di depan daun pintu ruangan beraroma dingin yang menusuk. Saya mencoba mengetuk pintu perlahan, sekali dua kali tak ada sahutan, belum menggenapkan ketukan yang ketiga seorang perempuan berkerudung hijau muda keluar, ia menyampaikam sesuatu dengan singkat, padat dan jelas.

"Pak Dosen tidak ada, datang besok saja" fyuuuuh..

Kejadian itu berulang besok dan besoknya lagi. Tak jarang rasanya ingin menangis ketika rasa cape perjalanan ujungberung ledeng ini harus dibayar dengan kata-kata besok datang lagi, lagi, dan lagi. Sedang waktu tak bisa diajak kompromi untuk terhenti selama satu atau dua jam saja. Ternyata proses bimbingan adalah sesuatu yang mahal, karena harus kita bayar dengan kesabaran dan keikhlasan yang tak bisa kita takar besarannya.

Dari bulan ke bulannya saya di hinggapi rasa khawatir, karena bulan agustus adalah jadwal pembayaran spp, kalaulah di bulan itu belum melaksanakan sidang, uang spp harus segera dibayarkan. Maka seketika terbayanglah wajah orangtua, saat itu saya tak punya penghasilan, beda dengan taun-taun sebelumnya yg masih bisa di tombok dengan bekerja paruh waktu di sebuah lembaga les bahasa inggris atau berjualan ini itu.

Menginjak akhir bulan juli progress skripsi baru mencapai bab 3 dan berkutik di bab 4. Lemas sekali rasanya jika bulan agustus ini proses sidang terlewatkan. Tapi bukankah segala sesuatu itu harus kita perjuangkan, dan ranah manusia adalah pada segala proses pencapaian sedang Allah berada dalam ranah menentukan hasil? Mengingat hal terrsebut semangat seperti tercharger.

Suatu ketika, sesaat setelah menemui dosen pembimbing dengan menghasilkan banyak coretan di lembaran kertas skripsi itu, saya berjalan menyusuri tepian jalan kampus menuju perpustakaan, lalu langkah terhenti pada sederetan mahasiswa yang tak lain adalah teman-teman seangkatan dan kaka tingkat yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing, sama-sama berjuang meyelesaikan studinya. Banyak diantara mereka yang masih jauh tertinggal, dan coretan hitam dikertasku ini tetiba berubah menjadi luap syukur yang tak terkira. Rasa syukur itu selalu ada di sela-sela kegetiran yang tengah kita rasakan.

Tersungkur di salah satu sudut ruang musola perpustakaan menjadi titik pasrah dalam menyelesaikan tantangan ini.

      " Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan solat. Dan (solat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk" (albaqarah:45)

Solat dan sabar benar-benar menjadi solusinya. Apapun yang kita jalankan menjadi terasa ringan ketika perjuangan ini dikembalikan pada yang maha memiliki keputusan. Allah tak pernah meninggalkan kita dalam keterpurukan. Ia punya banyak cara untuk menguji setiap hambanya. Dan darisanalah berpasrah pada Allah sepenuhnya, saya mulai negosiasi pada orangtua untuk pembayaran spp yang harus segera di auto debit pihak kampus, meminta maaf karena masih harus merepotkan dan tak lupa meminta doa restu agar mengalirlah keberkahan dalam setiap langkah.

Qadarullah, satu hari sebelum pendaftaran sidang ditutup, Pak dosen mengirimkan pesan bahwa saya boleh ikut sidang dibulan agustus. Subhanallah walhamdulillah, buah dari kesabaran akhirnya terasa begitu indah. Dan sidangpun terlaksana dengan lancar tanggal 21 agustus bersama 3 orang kaka tingkat. Uang spp yang telah dibayarkan dikembalikan kembali dari pihak kampus.

Dan mimpi ini benar2 terwujud. Sensasi "manjadda wajada" tidak hanya terasa dalam kisah-kisah novel yang mengharukan, tapi ia mantra yang bisa terjadi pada setiap orang yang mau mengusakan dalam kepasrahan.

 Nyicil tulisan dalam mengabadikan serangkaian kisah yg telah dilewati.

Hari ke-1 ODOP for 99days

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer