Pengajian

 Proses pengajian ini dimaksudkan agar tumbuhlah keberkahan selama proses pernikahan pun setelahnya. ini juga menjadi momen untuk meminta doa restu orangtua kepada anaknya yang kini sudah dewasa dan akan mempunyai peran baru, bahkan setelahnya mempunyai status yang sama yaitu menjadi orangtua.

Calon suami bilang bahwa ia tak mau ada proses adat istiadat seperti lengser, lempar kendi, pecah telor dsb, alhamdulillah ternyata bisa dierima oleh ibuku, padahal pernikahan kakakku memakai proses adat istiada tersebut. Sikap toleran ibu begitu luar biasa, tapi ada satu hal katanya, biarlah tetap ada proses siraman sekaligus pengajian sebagai simbol pelepasan orang tua kepada anaknya. Aku terharu mendengar kalimat itu, seketika terbayangkan kalau kelak punya anak yang telah di besarkan selama puluhan tahun tiba-tiba dibawa pergi oleh seseorang yang baru dikenal. Dramatis sekali rasanya, tapi itulah hukum alam.

Tepat satu hari sebelum hari-H acara pengajian dan siraman itu diadakan. Jelas sekali bahwa ibu sangat antusias dengan pernikahan ini, tak nampak rasa lelah diwajahnya padahal semuanya diatur oleh ibu. Ibu sibuk dengan berbagai persiapan, dan aku pun sibuk curi-curi pandang melihat wajahnya, semakin lama semakin membuat hati sesak menahan tangis. Bagaimana mungkin aku tega meninggalkannya kelak, dan ini adalah saat-saat terakhir aku berstatus tunggal sebagai anaknya tanpa embel-embel status istri seseorang. Lain cerita dengan esok hari yang harus mulai berbagi dengan suami.

 Ah, ibu..betapa berat rasanya harus berpisah denganmu..

 Perasaan sedih semakin menjadi ketika acara pengajian dimulai. Ibu-ibu pengajian telah berdatangan, rumahku yang telah dihias ala kadarnya itu tiba-tiba padat oleh yang berseragam putih. Aku duduk disamping ibu yang beberapa kali tak sengaja melihatnya tengah mengusap air mata. Ya Allah..aku tertunduk, dan meneteslah buliran yang sedari tadi menggumpal dikedua kelopak mata ini.

 Acara pengajian berjalan dengan khidmat, ayat-ayat suci dilantunkan, juga ada tausyiah tentang pernikahan, aku perhatikan betul-betul..

 "bahwa menikah bukan berarti terputuslah tanggung jawab kita kepada orangtua, pun orang tua kepada anaknya, menikah hanyalah jalan melebarkan berkah, agar bertambahlah sakinah dalam setiap langkah, dan yang lebih utama bertambahlah saudara untuk sama-sama berjuang menggapai Jannah"

Subhanallah, indah sekali yang diucapkan ibu ustadzah, kata-kata itu membuatku bertekad bahwa menikah adalah jalan yang lebih kuat untuk menunjukan bakti pada orangtua.

 Diakhir pengajian, aku tersungkur di lutut ibu, dengan disaksikan banyak orang aku berkata padanya,

"Mah, tak akan ada satu orangpun yang bisa menggantikan posisi mamah juga bapak dihatiku, terimakasih untuk semua kasih sayang dan kesabarannya. Mohon doa restu untuk anakmu yang akan menikah esok hari, semoga aku bisa menjadi anak yang tak lupa kewajiban kepada orangtua juga menjadi istri yang baik untuk suami kelak" kerongkonganku sakit menahan tangis, ibu merangkulku..

"Nak, tak ada yang lebih membahagiakan orangtua kecuali bisa melihat anaknya menikah, tugas mamah dan bapak nyaris selesai untuk mendidikmu sepenuhnya, karena esok kamu telah menjadi tanggungjawab seseorang. Kepadanyalah baktimu lebih utama, jadilah istri yang menjadi embun bagi suami, mamah dan bapak ridho sepenuhnya, semoga keberkahan senantiasa meliputimu"

Dan air mata bergulir untuk yang kesekian kalinya.

Orangtua soleh, adalah surga abadi untuk anak-anaknya..

 Dan aku mendapatkannya..

 Terimakasih ya Allah

 hari ke-8 ODOPfor99days


Komentar

Postingan Populer